"mba, bangun... adzan subuh tuh" suara ayah membangunkanku dari lelap. Sejenak aku terjaga, namun detik berikutnya aku kembali lelap. Aku tak ingin mimpi itu berakhir.
_____
Aku berjalan sendiri menikmati suasana senja. Rasa hatiku begitu rindu. Entah pada apa atau siapa. Hanya rindu. Jalan setapak di pinggir lapangan ku lalui tanpa berpikir hendak kemana aku pergi. Hingga akhirnya aku sampai pada jalan buntu.
Entah apa yang kupikirkan, aku hanya merasa bahwa tempat ini adalah tujuanku. aku melihat sebuah rumah mewah bercat dinding ungu. Aku membunyikan bel. tak ada jawaban. sekali lagi, dan hanya hening yang membalas.
"Mas Dimas, Mas Dimas.." aku membatin, dilanjutkan bergumam lirih. Dimas? Siapa? seperti mampu kembali berfikir, aku mengingat-ingat nama Dimas. Ada beberapa orang yang kukenal bernama Dimas. Kakak kelas saat SMA, kakak tingkat saat kuliah, tetangga, teman main saat SD, kakak dari temannya temanku yang juga jadi temanku. Siapa lagi? Ini Dimas yang mana?
Tiba-tiba pintu rumah tersebut dibuka oleh seseorang yang wajahnya sangat ku kenal. Mas Deni. Yaah, dia adalah salah satu top star di kampus. semua junior mungkin mengenalnya. Tidak, pasti mengenalnya.
"Dimas, ada yang nyari nihh." dia berteriak setelah melihatku di depan pintu.
"masuk aja dek, bentar lagi juga Dimas keluar." dia mempersilahkanku dengan sangat lembut. aku bingung, kenapa bukan dia yang ingin ku temui? kenapa seseorang bernama Dimas yang bahkan aku tak mengenalinya?
"gak ah mas, mkasih, aku nunggu diluar aja." aku menolak.
seseorang keluar menyusul mas Deni. Dia lah Mas Dimas. Wajahnya. Aku tak mampu mengingat wajah itu. kemudian aku tersadar dan teringat akan siapa mas Dimas. Ini sebuah mimpi. seperti mimpi-mimpi sebelumnya. aku tak pernah melihat dengan jelas wajah mas Dimas.
Mas Dimas menggandeng tanganku. mengajakku masuk ke rumahnya. Aku menolak. Aku lalu keluar dari halaman rumah bercat dinding ungu itu. Mas Dimas mengejarku. Kembali menggandeng tangan kiriku dengan tangan kirinya. Tangan kanannya mendekap bahu kananku. Seketika itu aku merasa nyaman. Seketika itu pula aku tak ingin waktu berlalu ataupun terbangun dari mimpi.
Kami berbicara satu sama lain. Entah apa yang kami bicarakan, aku sama sekali tak mengingatnya. Waktu beranjak malam dalam mimpiku. Seperti mengerti isi hatiku, Mas Dimas menawarkan agar ia mengantarku ke rumah, dan aku menolak.
Sedetik kemudian Mas Dimas meraih tanganku, dan menariknya hingga aku berada dalam pelukannya. Lama. Lama hingga aku terbangun.
to be continued...
_____
Aku berjalan sendiri menikmati suasana senja. Rasa hatiku begitu rindu. Entah pada apa atau siapa. Hanya rindu. Jalan setapak di pinggir lapangan ku lalui tanpa berpikir hendak kemana aku pergi. Hingga akhirnya aku sampai pada jalan buntu.
Entah apa yang kupikirkan, aku hanya merasa bahwa tempat ini adalah tujuanku. aku melihat sebuah rumah mewah bercat dinding ungu. Aku membunyikan bel. tak ada jawaban. sekali lagi, dan hanya hening yang membalas.
"Mas Dimas, Mas Dimas.." aku membatin, dilanjutkan bergumam lirih. Dimas? Siapa? seperti mampu kembali berfikir, aku mengingat-ingat nama Dimas. Ada beberapa orang yang kukenal bernama Dimas. Kakak kelas saat SMA, kakak tingkat saat kuliah, tetangga, teman main saat SD, kakak dari temannya temanku yang juga jadi temanku. Siapa lagi? Ini Dimas yang mana?
Tiba-tiba pintu rumah tersebut dibuka oleh seseorang yang wajahnya sangat ku kenal. Mas Deni. Yaah, dia adalah salah satu top star di kampus. semua junior mungkin mengenalnya. Tidak, pasti mengenalnya.
"Dimas, ada yang nyari nihh." dia berteriak setelah melihatku di depan pintu.
"masuk aja dek, bentar lagi juga Dimas keluar." dia mempersilahkanku dengan sangat lembut. aku bingung, kenapa bukan dia yang ingin ku temui? kenapa seseorang bernama Dimas yang bahkan aku tak mengenalinya?
"gak ah mas, mkasih, aku nunggu diluar aja." aku menolak.
seseorang keluar menyusul mas Deni. Dia lah Mas Dimas. Wajahnya. Aku tak mampu mengingat wajah itu. kemudian aku tersadar dan teringat akan siapa mas Dimas. Ini sebuah mimpi. seperti mimpi-mimpi sebelumnya. aku tak pernah melihat dengan jelas wajah mas Dimas.
Mas Dimas menggandeng tanganku. mengajakku masuk ke rumahnya. Aku menolak. Aku lalu keluar dari halaman rumah bercat dinding ungu itu. Mas Dimas mengejarku. Kembali menggandeng tangan kiriku dengan tangan kirinya. Tangan kanannya mendekap bahu kananku. Seketika itu aku merasa nyaman. Seketika itu pula aku tak ingin waktu berlalu ataupun terbangun dari mimpi.
Kami berbicara satu sama lain. Entah apa yang kami bicarakan, aku sama sekali tak mengingatnya. Waktu beranjak malam dalam mimpiku. Seperti mengerti isi hatiku, Mas Dimas menawarkan agar ia mengantarku ke rumah, dan aku menolak.
Sedetik kemudian Mas Dimas meraih tanganku, dan menariknya hingga aku berada dalam pelukannya. Lama. Lama hingga aku terbangun.
to be continued...

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus