"Min.. Minni..!!" aish, siapa lagi itu? aku mencari sosok yang memanggilku barusan. "Min, mo kemana sih? buru-buru amat?"
"biasa, lagi pengen minum coklat.."
"iiihhh gag ngajak-ngajak. ikutan donk!" sial. Dara gag tau aj aku lagi pengen sendiri.
"ok, tapi traktir aku ya."
"siap."
Akhirnya, disinilah kami. Chocola Cafe. BERDUA. Seorang waitress datang ke meja kami. Dengan pakaian seragam yang sengaja ia rapikan terlebih dahulu.
"pesen apa nih, mba-mba?"
" hot chocolate satu." aku menjawab acuh. sama sekali tak memperhatikan ataupun melihat wajahnya.
"chocolate coffe latte sama chocolate pudding with srowberry sauce satu. makasi ya mas.." kulirik Dara yang memesan dengan centilnya. Pasti ada sesuatu dengan pelayan muda itu. Kualihkan pandangan mataku kearah waitress yang masih sibuk mencatat pesanan kami. Lumayan, skor 85. Merasa diperhatikan, waitress itu balik memandangku lantas tersenyum. Sedetik kemudian dia berlalu.
"Tadi.. liat gg Min, dia cakep ya?" Dara memulai pembicaraan. seperti biasa, matanya dengan lincah berputar saat membicarakan sesuatu yang membuatnya tertarik.
"hemm"
"berapa skornya?"
"85"
"yaah masa cuma 85? harusnya 95 kalii.."
"hemm"
Tak lama berselang, pesanan kami datang. Tapi bukan waitress tadi yang mengantarkannya. hemm mungkin dia sibuk? pikirku.
"ini pesanannya mba. Hot chocolate satu, chocolate coffe latte sama chocolate pudding with srowberry sauce satu. "
"iia, makasih, mba.. oia, yang nganter kok bukan waitress yang tadi?" ini apa lagi sih Dara? doyan banget sama urusan orang...
"yang mana mba?"
"itu loh yang rambutnya pendek lurus-lurus, matanya sipit-sipit belo, bibirnya tipis, manis, tinggi putih."
"ooh yang laki-laki ya mba?" dara mngangguk kencang, waitress heran sambil melirik kearahku. Apa? kataku dalam hati.
"ooh sedang keluar mba." ia berkata sambil lalu menaruh pesanan kami di meja.
"mba, bukannya disini pelayannya cuma cewe' ya?" kali ini aku yang bertanya. Bukannya menjawab, waitress itu hanya mengendikkan bahu dan berlalu.
"kok kamu tau sih Min?" dara memulai sambil menikmati puddingnya.
"apa?"
"kalo' disini cuma ada waitress cewe' aja.."
"yaah, cafe langganan..."
"oia ya..? hahaa maap deh,"
"napa juga minta maap.."
"gag pa pa, hehehee."
Dara pulang lebih dulu dari aku. Lebih tepat aku mengusirnya pergi dengan alasan aku mau ketemu sama guru les kimiaku dulu. Dara yang anti kimia langsung kabur karenanya. Sejenak aku merasa nyaman duduk sendiri di tengah ruangan cafe yang tak begitu luas. Suasana tak begitu ramai, hanya beberapa pasangan yang duduk tak jauh dari tempatku. Aku mulai melamun lagi. memikirkan mimpi semalam. mengingat-ingat wajah mas Dimas agar aku dapat menemukannya. Kemudian lamunanku beralih ke waitress 85 tadi.
Sejurus aku tertegun dan segera beranjak dari kursi, mengambil tas dan menuju kasir. Dara pasti lupa membayar bagianku.
"mba', saya tadi pesan hot chocolate satu." ucapku sembari mengulurkan selembar uang bernilai Rp. 50.000
"oia, tunggu sebentar ya mba. ini kembalinya" ucap waitress yang sama dengan yang mengantarkan pesanan kami. kali ini dia bertugas di kasir.
" mba' tadi saya tanya sama mba dan belum dijawab. bukannya disini gag nerima waitress cowo'?"
"maaf mba, yang tadi itu bukan waitress.. dia..."
"ooh, ya udah mba' saya kira waitress disini."
" eh, mba, mas Dimas nitip salam buat mba." Di..Dimas?
"siapa?"
"itu tadi mas-mas yang nyatet pesenan mba, namanya mas Dimas." ....
to be continued...

Kyaaaaaaaaaaa pasti yang punya caffe >w<
BalasHapusemmmmm.... mungkin.. hahhahaa
BalasHapus