Jumat, 10 Februari 2012
Mawar, Tentang Duri
Sore itu saya hanya sedang duduk dan mengajari seorang gadis kecil, ketika ia tiba-tiba bertanya pada saya, denagn kepolosannya dan rasa ingin tahunya.
“Mba, duri itu apa sih? Kok kayaknya ga’ ada gunanya banget.”
Saya yang bingung mencari kata-kata yang mungkin dapat dicerna olehnya - karena saya tak mungkin memberitahunya bahwa duri itu lanjutan dari epidermis - hanya bisa menanyakan hal yang sama padanya.
“menurut adek, duri itu apa?”
“apa ya mba? Pokoknya duri tuh ga’ ada gunanya. Nyusahin dan bikin sebel aja. Kaya mawar yang banyak durinya itu lho mba. Kalo Aku petik kan bisa kena durinya, pasti sakit.”
Saya berpikir sejenak. Ada keheningan yang tiba-tiba datang, lalu dia berkata lagi.
“tapi kalo mawar ga’ ada durinya bukan mawar ya, mba, namanya. Kalo cewe cantik senjatanya apa mba? Duri ya? Kan mawar cantik tuh,”
Mendengar kata-kata itu, yang berasal dari anak kelas 3 SD –bayangkan kelas 3 SD-, saya hanya bisa berkata dalam hati, betapa bodohnya saya.
Menilik kejadian itu, saya menanyakan hal yang sama pada dua orang teman. Yang seorang laki-laki dan yang lain perempuan. Mereka berdua menjawab –sama seperti pikiran saya ketika pertama kali ditanya oleh gadis kecil itu- sesuai dengan konteks mata pelajaran biologi.
Apa yang menjadi jawaban mereka membuat saya berpikir. Kami –yang notabene seorang pelajar- telah lama mengartikan segala sesuatu sesuai dengan apa yang kami dapat di bangku sekolah. Bukan mengartikannya sesuai dengan kondisi dan mengartikannya secara normatif.
Kemudian saya bertanya lagi dan saya katakan bahwa saya ingin mereka menjawabnya dalam konteks lain. Terserah mereka menilai dalam sudut pandang apa, yang penting bagi saya adalah keluar dari keterkaitan dengan materi biologi yang kami terima di dalam kelas.
Teman laki-laki yang saya tanyai menjawab bahwa duri adalah perlindungan diri tumbuhan. Ketika kita menyentuhnya akan merasa sakit, tapi kita pun tak dapat begitu saja menyalahkan duri, karena tentu itu hanya bentuk perlindungan diri.
Sedangkan teman perempuan saya mengartikan duri sebagai sebuah simbol pemberontakan. Bahwa selemah apapun mawar berduri, ia akan melawan jika diinjak –saya berpikir, siapa yang dengan bodohnya ingin menginjak mawar?- dan akan melukai jika dipetik. Yah, saya kira jawaban ini bukan arti sebenarnya, bahwa yang dimaksudkan adalah siapapun tak senang bila diremehkan, siapapun tak akan diam saja bila ia direndahkan.
Lepas dari jawaban mereka, saya berpikir, duri adalah bentuk dari kepongahan. Duri adalah sebuah bentuk kesombongan mawar atau bougenvil akan kecantikannya sehingga ia tak akan begitu saja menerima siapa yang datang padanya. Yang ingin saya katakan adalah mawar -yang berduri itu- begitu pongahnya sehingga ia akan berkata “biarkan macan mengaum disampingku, aku tak akan gentar. Aku punya duri yang bisa membuatnya bertekuk lutut dan kesakitan.”, tentu saja ini hanya anggapan saya.
Menyadari perbedaan ini, saya merasa begitu naïf dengan pikiran-pikiran saya. Betapa kami memaknai segala sesuatu, pada awalnya, teoritis. Dan ketika kami dihadapkan pada esensi yang berbeda, saya menemukan perbedaan sudut pandang yang kami gunakan.
Dari situ saya mengambil kesimpulan, hal yang terjadi atau yang ada pada suatu keadaan dapat diartikan berbeda oleh setiap individu. Bisa saja saya menganggap apa yang saya lakukan adalah benar, tapi menurut orang lain belum tentu, karena saya tidak bisa merasakan menjadi orang lain pada saat suatu keadaan itu terjadi. Atau mungkin saya mengatakan bahwa suatu hal begitu menyakiti hati saya namun ternyata hal itu adalah yang terbaik yang dia pikirkan.
Sesuatu yang nampak baik belum tentu baik dalam arti sesungguhnya dan sesuatu yang terasa menyakitkan bisa saja adalah yang paling membahagiakan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar