Hampir berakhir. Hampir habis waktunya. Sampai saat itu pun aku belum mampu untuk menjadi pemberani. Tetap saja hanya bisa melihatmu dari jauh. Bahkan saat duduk bersebelahan pun aku tak mampu melihat wajahmu. Aku malu, kalau-kalau kau membalas tatapanku. Terkadang muncul perasaan aneh yang membuatku takut. Bagaimana jika esok kau melupakanku. Dan saat kita bertemu lagi, kau tak mengenaliku. Aku takut jika aku tak pernah hadir dalam memorimu. Aku..aku ingin membuat kenangan tentangku tapi aku tak sanggup. Aku tak dapat lebih dekat dengan mu. Seperti saat ini. Aku hanya bisa menatapmu di layar komputerku. Dan kau hanya diam dan berpose. Ya, aku hanya bisa melihatmu dalam foto. Hari-hari saat aku tak dapat bertemu denganmu sangat menyiksa.
Aku sendiri bingung dengan keadaan ini. Aku yakin kau tahu, tapi aku bingung tentang yang kau rasakan. Sekejap kau membuatku merasakannya. Cinta. Tapi sesaat kemudian aku tak dapat merasakannya lagi. Aku..seperti berada di sebuah planet asing. Terkadang aku bisa melambung begitu tinggi. Dan kemudian jatuh tersungkur karena gravitasinya. Kau tahu? Kau yang melakukannya. Kau yang membuatku terpuruk dan berada di atas awan. Kau pernah akan mengatakan sesuatu, tapi setelah itu kau seperti melupakannya. Apa yang sesungguhnya akan kau jelaskan? Katakan padaku, sebelum berakhir, sebelum terlambat, sebelum aku pergi dan kita mungkin tak akan bertemu, sebelum kau menyiksaku lebih lama.
“Manaka, bagaimana? Apa ada perkembangan?”
“Ah?”
“Tomoya, tentang Tomoya. Apa dia sudah memberi kejelasan?”
“Belum.”
“Belum? Ah, sayang sekali.”
“Mungkin setelah ujian, atau mungkin tak akan pernah.” Karena aku pun masih bingung dengannya. Tomoya,
“Maksudnya?”
“Mungkin … ah aku tak tahu.” Gedung sekolah masih sepi. Belum dipadati oleh siswa-siswa. Masih sepi seperti hatiku, sepi. Dedaunan yang gugur dari pohonnya, kicau burung yang riang menghiasi percakapanku dengan Chihiro, kami memang sering bertukar rasa tentang laki-laki yang kami sukai. Kami sama-sama sedang menunggu sesuatu yang mungkin takkan terjadi.
“Manaka, kau ingat kata-kata Assanotti?”
“Maksudmu Pak. Assano?”
“E-em, ‘mengapa kau mencari belut di tempat yang kering? Mengapa tidak kau cari ikan di kubangan lumpur, atau sekalian mencari ikan di kolam? Mengapa kau terus melakukannya? Kau hanya akan membuang waktumu. Sadarlah kawan’ apa kau ingat, Manaka?”
“Ya, dan jika ia bertanya padaku akan ku jawab, ‘jika aku harus melupakan perasaanku untuk dapat sadar, aku lebih memilih untuk tetap berkhayal’ bagaimana menurutmu?”
“Hahaha, kau serius akan melakukannya demi Tomoya?”
“Aku…ya. Aku akan melakukannya.”
“Sepertinya kau benar-benar berharap ya?”
“E-em, bagaimana denganmu?”
“Ya,… aku tak dapat berharap banyak. Karena arahnya memang bukan pada hal itu. Manaka, apa kau akan melakukannya?”
“Apa”
“Long distance”
“Ya, kalau harus.”
“Long distance will makes you crazy, baby.”
“Bahkan sekarang pun aku sudah tak dapat berfikir dengan jernih.”
“Hahaha… kau ini terlalu..”
“Aish, sudahlah, Chihiro. Kita lanjutkan besok lagi. sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.”
“Ah, ya. Daagh Manaka..”
Apa aku salah? Aku telah mengartikan sesuatu dengan salahkah? Atau kau memang memberi harapan? Atau kau berlaku seperti ini pada setiap orang? Apakah itu telah menjadi sifatmu? Jika benar, maka jangan pernah bersikap baik padaku. Karena itu hanya akan membuatku semakin menyukaimu. Jangan pernah kirim pesan padaku. Jangan pernah bertegur sapa denganku. Tapi…jangan kau acuhkan aku. Cukup benci padaku. Tapi jangan melupakanku. Atau…
“Maaf, jika aku mengganggu. Aku hanya ingin bertanya. Apa kau tahu soal posisi duduk saat ujian besok?”
Ah, lagi-lagi kau mengirim pesan. Apa setelah ini akan ada obrolan seperti biasanya?
“Aku tahu.”
“Seperti apa”
“Dengan urutan absensi dan menyamping.”
“Begitukah”
“e-em.”
“ot.re thanks.”
“ya.”
“oh ya, Manaka. Kau pasti sedang belajar, maaf ya kalau aku mengganggu. “
“tak apa, aku justru senang.”
“strange.ck biasanya orang akan marah saat terganggu, kau malah senang,”
“out of ordinary, ya, Tomoya?”
Sudah. Cukup sampai disini. Aku tak akan sanggup bila kau mengatakan aku unik. Kau hanya akan membuatku terus berharap lebih.
“Kyaa…Manaka..ohio..! Aku ingin bercerita. Ada waktu?”
“Tentu. Pasti tentang Daiki.”
“Kau memang bisa membaca pikiran, ya?”
“Itu karena aku tahu tabiatmu, ada apa dengan daiki?”
“Ah, ya. Daiki. Dia memintaku membuatkannya bento. Bagaimana menurutmu?”
“Buatkan saja. Dobel, untukku satu.”
“Kyaaa.. kau kan tahu aku tak begitu pandai memasak.. Aduh bagaimana ini?”
“Coba saja. Kalau dia tak menerimanya, berikan padaku. Hhaa”
“Kau ini. Aku serius,,”
“Aku juga. Buatkan untukku juga. Bagaimana?”
“Kau tak memberi solusi, malah memberatkan. Menurutmu apa isi bentonya?”
“Terserah padamu, kau bisa masak apa?”
“Manaka, bagaimana kalau aku tak membuatkannya?”
“Kau harus.”
“Ahh.. Manaka…!”
“Apa?”
“Jangan tertawa !”
“Aku tidak. Aku hanya akan tertawa, hahaaa..”
“Manakaaa…”
Tomoya, apa kau juga ingin kubuatkan Bento? Tentu kau tidak menginginkannya, benar bukan? Tomoya, akan ada Ujian setelah ini. Aku.. sepertinya harus melupakanmu sejenak. Ah.. tentu kau tak peduli hal itu.
Bagaimana Tomoya? Sudahkah kau berfikir? Aku masih menunggu. Kau bilang selalu ada harapan untuk hari esok. Apa aku masih pantas untuk berharap? Semu. Masih semu. Samar-samar dan tanpa kejelasan. Padahal telah berlalu 5 minggu setelah Sabtu itu.
“Chihiro, apa kau mau jalan-jalan? Kozue juga ikut.” Aku tahu kau pasti akan berkata ya, cepat katakan…
“Ah, tentu. Jalan-jalan kemana?” nah, benar bukan..
“Makan es krim dan ke toko buku. Bagaimana?”
“Ayo!”
“Manaka, Chihiro..!” itu dia kozue.
“Ah, Kozue. Ayo berangkat. Manaka, ayo !”
“Manaka, kau terlihat murung. Apa tetap tak ada perkembangan?” kau benar Kozue. Tetap pada stagnansi.
“Manaka? Kau melamun?”
“Ah, tidak, Chihiro.”
“Bagaimana perkembangannya.?” Arrgh tolong jangan tanyakan tentang itu saat ini, teman-teman. Aku ingin sesaat saja bergembira selepas ujian.
“e-em tak ada yang terjadi.” Maaf hanya ini yang bisa ku katakan. Maaf.
“Aish, sudahlah Kozue, lebih baik kita bersenang-senang. Benar bukan, Manaka?”
“Ya.” Teman apa senyumku terlalu ku paksakan? “ah, ya, bagaimana dengan Daiki, Chihiro?”
“e-em, tak ada perkembangan juga. Bagaimana dengan Maruyama, Kozue?”
“Aish, sudah waktunya untukku berhenti berharap. Aku sedang tak ingin memikirkan masalah seperti itu. Ayo kita cari dvd drama korea.”
“Ayo.”
“Ya.”
Baiklah. Untuk saat ini adalah waktu untuk bersama teman-temanku. Tak ada Tomoya. Ah, apa kabar dengan Tomoya? Akan lama aku tak bertemu dengannya. Ini akan lebih menyiksa.
Krring krring, Tomoya menghubungiku?
“Ohio, Manaka. Apa besok kau ada waktu?”
“Tentu, tapi tak banyak. Ada apa?”
“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Kau bisa?”
“Ya aku bisa. Tomoya..”
“Ya?”
“Ah, tidak, lupakan. Sampai jumpa besok. Ohio.” Aku memutus jaringan telepon. Besok. Besok. Akan seperti apa?
Tomoya, terima kasih telah memberi warna. Terima kasih untuk tak lagi membuatku bingung. Terima kasih untuk tetap membiarkanku mengagumi. Aku senang dengan keadaan yang seperti ini. Sahabat. Seperti katamu, dua kali lebih kuat dari cinta. Tak apa. Suatu saat nanti aku akan melihat kau dengan seorang yang kau pilih disampingmu. Dan aku akan tersenyum saat itu. Begitu kan Tomoya? Kita akan lebih dekat setelah ini... Tomoya.
Fin.

this my first short story, made on senior high school..
BalasHapus