Kamis, 08 Maret 2012

Just Have to be Love


Just has to be Love




 “Yamashita-san, kau temannya Maruyama-kun kan?”
“eh, em, hanya teman sekelas,”
“Ah, baguslah, aku ingin menitipkan surat ini untuknya. Tolong ya?”
“tapi, tapi. . aku tak dekat dengannya. Bagaimana aku me . .”
“Ah, berikan saja padanya. Mudah kan? Sudah ya, kami pergi dulu.”
Aish, seenaknya saja mereka. Kenapa tak mereka berikan sendiri sih ! Aku jadi repot kan. Apalagi Hirai yang dingin itu. . ih. . membayangkan bertatapan dengannya saja aku ngeri. Aduh, bagaimana, bagaimana?
“Hey, itu. . untukku, kan? Kenapa kau masukkan ke dalam tas?”
“Kyaa ! ! Hirai ! ah, eh. . iya, ini untukmu dari siswi kelas 3-2. Sudah ya , aku mau pulang. Daagh !”
Ah, untung saja aku tak menatap matanya. Bisa-bisa aku pingsan karena ketakutan. Eh, bagaimana bentuk wajahnya tadi ya? Pasti seram. Jangn, jangan membayangkan, Kozue, jangan. .
“Kau ! Tunggu.”
“A. .apa?”
“Ikut aku !” aish, mati aku.
“A. .aku masih ada urusan. Harus cepat-cepat. Daagh !” kabur, kabuur. . harus cepat sebelum dia . . .aawww! tanganku !
“Kau mau kemana, Kozue ! Kubilang ikut aku.”
“Tapi, tapi aku . . .”
“Aish. Pokoknya ikut aku, kau harus menemaniku membaca surat-surat ini.”
“A. .apa?!” arrgh sial !


Kalau sudah begini aku tak kan bisa kabur. Tidaak. Lho? Kenapa dia malah duduk dan a. .apa? tidur? Apa dia sudah gila ! aku harus menemaninya membaca surat tapi dia malah tidur? Ah, ini kesempatan. Bagus. Aku bisa kabur ! nah, Hirai, duduk dan tidurlah di kursi taman itu. . aku mau kabur. Daagh ! hahaha. . .
“Hey, kau mau kabur, Kozue?”
“eh. .si. .siapa yang mau kabur, he. .hehe. .”
“jangan tertawa, tawamu itu terlalu kau paksakan.”
“eh, ketahuan, ya. Padahal kau sedang tidur. Tapi kau tahu apa yang terjadi disekelilingmu.”
“hemm, tentu saja aku tahu. Duduk dan dengarlah. Tutup matamu.”
“tu. .tup ma. .mata? hey kau mau apa?” ma. .matanya menyeramkan. . lebih baik ku palingkan mukaku. Kozue, jangan pingsan. Tuhan tolong aku. . apa dia masih menatapku?
“kalau kau palingkan wajahmu seperti itu orang akan menganggapmu sombong.”
“kau tahu? Matamu itu menyeramkan sekali ! “ ups ! aku tak sengaja mengatakannya. Apa dia marah?
“be. .benarkah?”
“Hirai? Kau tak marah padaku?”
“tidak. Apa aku begitu menyeramkan?”
“i. .iya, maaf ya Hirai.?”
“tak apa, ceritakan padaku.”
“apa?”
“kau bilang aku menyeramkan. Ceritakan padaku kenapa kau menganggapku menyeramkan.”
“baiklah. Eh, tapi bagaimana dengan surat-surat itu?”
“surat-surat? Kau tahu aku mendapat banyak surat?”
Aish, kelepasan lagi. Sial ! Kozue, tenangkan dirimu…
“ya, aku sering melihatmu mendapat surat dari para fansmu. Hehee.”
“Tawamu kali ini lebih ringan. Mereka tak menganggapku menyeramkan. Kenapa kau menganggapku begitu?”
“maaf ya, Hirai.”
“e-em, tak apa. Kau mau kabur, kan? Pulanglah sekarang.”
“ah! Apa? Ya, daagh Hirai.” Fiuuhh, akhirnya. . .


Hirai Maruyama. Dia adalah seorang teman di kelasku. Harus ku akui dia tampan, dan tinggi, dan kaya. . Semua gadis di sekolahku mungkin menyukainya. Termasuk aku. Aku tak bisa menyangkal bila ditanya ‘apa kau menyukai Maruyama-kun?’. Tapi aku tak bisa menatapnya. Ada perasaan yang menyesakkan bila aku melihat matanya. Pernah suatu kali aku melihat matanya,dan aku tak dapat berbuat apa-apa. Padahal aku sedang berbincang dengannya. Ah, bodohnya aku. Itulah kenapa ku bilang matanya menyeramkan. Membiusku sampai-sampai aku mau pingsan. Hehee. .
“moshi moshi. . ah, Hirai ! . . apa? Sekarang? Tapi ini kan hari libur . . tapi,tapi. . . aish ia aku kesana sekarang! ” untuk apa Hirai menyuruhku kesekolah? Padahal aku ingin melanjutkan lamunanku tentangnya. . hmpf.
“Kozue ! Disini !”
“em. Hey ada apa kau menyuruhku kesini?”
“temani aku, ya. .”
“a. .apa! dasar kau. Kukira ada ..”
“. . .”
“Hirai?” air mukanya berubah. Apa dia akan mengatakan hal yang serius?
“kau tahu?
“ah! Ti. .tidak. Apa?”
 Greb,
“Hey Hirai ! apa yang kau lakukan ! Lepaskan pelukanmu !”
“aku hanya ingin beristirahat sebentar dipunggungmu.’
“kau bicara seakan-akan tak tidur ratusan tahun. Hey! Lepaskan !” kau tahu? Aku jantungku jadi berdebar-debar  tahu  !
“sebentar saja, ya, Kozue.”
“. . .”
“Kozue, apa kau tak menyukaiku?”
“a. .apa?”
“apa kau tak ingin mengirimkan surat untukku?”
“aku? Aku . .mungkin akan membuatnya.”
“benarkah? Apa kau menyukaiku?”
“tentu saja  . . ka . .”
“jadilah pacarku, ya Kozue !”
“kenapa aku, Hirai?”
“pokoknya aku mau kau jadi pacarku . .!”
“hwa . .seenaknya saja !”
“haha. . .”
Hirai . . . tertawa? Sesak. Dadaku jadi sesak karena dia. Apa maksudnya dengan ini semua? Hmm, ini baru permulaan.


“Hirai. Apa kau sudah berhasil?”
“ ah, kau Hatake. Ya, tentu saja.”
“apa kau benar-benar melakukannya? Ingat perjanjian kita, Hirai. Ini tak akan semudah yang kau kira. Yamashita-san . . .”
“ish ! kau tak perlu khawatir. Aku akan menepati janjiku bila aku kalah.”
“baguslah. Apa rencanamu sekarang?”
“aish. Itu rahasia. Hahaa. .”
“heh? Tak biasanya kau tertawa lepas seperti itu. kau sakit?”
“apa? Aku, sakit? Hahaa, yang benar saja. Sudahlah. . aku pergi dulu.”


Semalaman aku tak dapat tidur nyenyak. Pikiranku berbayang Hirai. Apa benar yang terjadi kemarin? Dadaku penuh sesak olehnya. Hari Senin. Mestinya aku sekolah hari ini. Tapi tak mungkin dengan keadaanku yang sekarang. Aku menatap malas wajahku dalam cermin. Mataku sayu. Semalam, stetes dua tetes air mata jatuh membasahi bantal dan kasurku. Fiuh, untung hanya sedikit, kalau banyak bisa-bisa mataku sembab. Argh . . .
“Kozue, apa kau tak berangkat sekolah? Kau hamper telat, sayang.”
Ah, ibu. . apa kau tak tahu anakmu ini sedang tidak ingin sekolah? Ku bukakan pintu untuknya. Ibu menatapku cemas. Tentu saja, dengan mataku yang  begini, wajah kusut, badan lemas, siapa yang tak khawatir?
“ ibu, aku sedang tak enak badan. .”
“apa kau sakit?”
“e-em, sepertinya begitu.”
“aish, istirahatlah. Ibu akan buatkan bubur untukmu. Minum obatmu!”
“ia ibu.”
Siip ! Dengan begini aku tak akan kenapa-kenapa. Aku bisa membayangkan seandainya aku berangkat sekolah. Chihiro dan Mannaka pasti akan rebut sekali. Ah, apa aku harus mengatakan hal ini pada mereka? Mungkin tak sekarang.
Lebih baik aku tidur. Rasanya mataku jadi berkunang-kunang. Huaahm, selamat pagi dunia. .aku tidur dulu.


“moshi moshi,”
“kyaa, Kozue. Kau sakit? Kenapa tak ada di sekolah?”
“ah, Mannaka. Ya, badanku agak lemas, bagaimana di sekolah?”
“ya begitulah, sama membosankannya dengan hari-hari kemarin. Ah, Kozue, kami ada di depan rumahmu sekarang. Apa kau akan kami mati kedinginan di sini?”
“a. .apa? kenapa tak bilang dari tadi, !” Aish, mereka itu bodoh atau apa sih? Ckck lagian ini kan sudah masuk musim semi, mana mungkin kedinginan. Hahaa. .
Aku menuruni anak tangga yang ugh lumayan membuatku kecapean. Rumahku berlantai tiga. Lantai satu untuk toko, lantai dua untuk ruang tamu dan keluarga, dan lantai tiga untuk kamar anggota keluarga. Nah, bisa dibayangkan bagaimana rasanya naik turun tangga di rumahku? Hosh !
Begitu ku buka pintu rumahku, Mannaka dan Chihiro langsung memelukku. Mereka adalah sahabat-sahabatku. Dulu kami sekelas, namun sudah dua tahun ini kami ada di kelas yang berbeda satu sama lain. Aku di 3-4,Mannaka di 3-1 dan Chihiro di 3-8. Meski begitu kami lebih tetap dekat.
Kozue, ku dengar Maruyama-kun mencarimu tadi.”
“Hei Chihiro, kau ini bukannya menanyakan keadaannya dulu. .”
“Oia, maaf ya Kozue, bagaimana kabarmu?”
“yah, beginilah. Aku sudah lebih baik. Emm, apa benar Hirai mencariku, Chihiro?”
“Ya. Kata Mannaka begitu. Aku tak tahu persis, ruang kelasku kan jauh dari ruang kelas kalian.”
“Mannaka?”
“hemm, ia itu benar. Dia mencarimu. Apa hubunganmu dengannya?”
Apa harus ku ceritakan sekarang saja? Baiklah, mungkin ini saatnya.
“Kemarin aku dan Hirai jadian. Kami pacaran sekarang.”
“kyaa ! apa yang ku kaakan benar kan, Mannaka !”
“ia kau benar. Hey, Kozue, apa kau tahu siapa Maruyama-kun?”
“a. .aku, ada apa?”
“ku dengar dia itu bukan laki-laki yang baik. Kau harus hati-hati.”
Benarkah? Selama ini Mannaka tak pernah salah menilai orang. Mungkin aku memang harus mewaspadainya. Hirai, apa yang kau inginkan? Aish, kau membuatku pusing.


Do it right. You’re really a bad boy, only having curiosity rather than love.
Because of you, I’ve been fooled the entire time.

You’re no fun, you have no manners. You’re a devil, devil you are.

You better run run run run run
I can’t see this anymore, so I’m going to reject him . . .

Benarkah kau adalah bad boy, Hirai? Aku membereskan ruang tamu setelah Mannaka dan Chihiro pulang sambil mendengarkan lagu-lagu dari Sonyuh Shidae. Girlband asal korea yang juga terkenal sampai ke telingaku. Badanku masih lemas, tapi bebanku serasa hilang separuhnya setelah aku bercerita pada mereka.
“hey, Kozue. Kemana saja kau?”
“ ah. .! Hirai? Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?”
Hirai hanya menunjuk pintu toko yang terbuka . Dia lalu memelukku dari belakang, aku ingin menghindar tapi . . dia terlalu cepat menangkap tubuhku. Dagunya tepat berada di pundakku, disamping telingaku.
“Kozue, kemana saja kau? Aku kesepian di sekolah. Apa kau sakit?” dia berbisik, aku yang sedari tadi  hanya diam jadi salah tingkah. Aku yakin wajahku memerah sekarang.
“kenapa kau hanya diam?”
“Hirai,lepaskan aku.”
“tidak bisa. Aku menyukaimu, dan aku harus mencintaimu”
“a..apa maksudmu dengan . .”
“sst, . .pokoknya aku tak akan melepaskanmu.”
Apa ini? Harus mencintaiku? Kenapa harus begitu. Aku berusaha melepaskan diri. Hirai malah semakin erat memelukku. Ish, harus bagaimana ? Hirai membisikkan sesuatu di telingaku. Aku tak dapat mendengarnya dengan jelas, hanya terdengar seperti desahan. Dia lalu melepaskanku. Tepat saat itu, ibuku pulang. Ah, tepat waktu, bu. Hirai sepertinya tak ingin ada pertanyaan, dan langsung berpamitan pulang.


“Hey, kenapa kau?”
“tak apa. Hanya saja aku sedikit merasa bersalah padanya.”
“siapa, Kozue?”
“. . .”
“Aku sudah pernah mengatakannya kan, Hirai. Ini tak akan mudah. Ini bahkan lebih sulit dari membuatnya mencintaimu. Kau yang harus mencintainya. Sekarang, bagaimana prasaanmu?”
“aku. . argh sudahlah. Jangan lagi membicarakan hal ini. “
“hey, boy, sepertinya kita akan menang. ,”
“apa maksudmu?”
“kau pikirkan saja sendiri. Hahaa. . sudah ya.”
“hey tunggu. . . Hatake ! argh! Sial kau !”


Dua hari ini Hirai tak ada di kelas. Dan semua orang bertanya padaku. Kenapa bertanya padaku? Selain itu para gadis dari lain kelas juga menitipkan banyak surat padaku. Tentu saja untuk Hirai. Ish, artinya aku harus mampir kerumahnya saat pulang nanti. Rumahku dan rumahnya memang searah. Aku sering melihatnya saat pulang. Terlebih belakangan ini kami sering pulang bersama.
“Nakanishi-kun, apa kau tak tahu apa yang terjadi pada Hirai?” tanyaku saat bertemu Hatake Nakanishi kelas 3-3, yang setahuku adalah teman dekat Hirai.
“Tidak, kenapa kau tak menjenguknya?”
“menjenguknya? A. .apa dia sakit?”
“. . .”
“kau pasti tahu sesuatu, kan?”
“datanglah saja kerumahnya. Sudah ya, kelasku sudah mulai. Kau juga kan, Yamashita-san.”


“Permisi.”
“Ya? Oh, Yamashita-san. Mau menjenguk Hirai ya? Langsung saja ke kamarnya,”
Begitulah, ibu Hirai sepertinya hapal denganku. Hahaa.. tentu saja, sejak jadi pacarku, Hirai sering mengajakku ke rumahnya untuk sekedar bertemu dengan ibu Hirai. Aku heran, kenapa dia melakukannya?
Kamar Hirai ada di lantai dua, tepat di samping tangga. Aku mengetuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban. Apa dia sedang tidur? Perlahan aku menggeser pintu agar tak membangunkan Hirai. Berantakan. Sama seperti terakhir kali aku datang, dua minggu lalu.
Melihatnya sedang tidur, aku jadi tak tega untuk marah karena ulah fansnya yang menitipkan surat mereka padaku. Hihihi. .wajahnya lucu saat tidur.
Drrrt, drrrt. . ah, hp Hirai bergetar, apa aku harus membangunkannya? Mungkin nanti saja.
“moshi moshi.”
“hey Maruyama-kun. Apa kau sudah berhasil? Apa kau sudah jatuh cinta pada yamashita-san? Ingatlah, waktumu akan segera habis untuk membuktikannya. Ah, sepertinya kau harus menepati janjimu untuk taruhan ini. . . hahahaa. .”
Klik.
Suara di seberang sana menghilang. A. .apa maksudnya semua ini? Hanya permainankah? Tapi kenapa Hirai mengorbankan perasaannya? Untuk apa? Aku menahan air mataku. Semoga saja Hirai tak melihatku begini. Dia pasti sangat sakit.
Hirai, hari ini cerah dan air mataku jatuh. Apa kau tahu?


Seminggu berlalu tanpa ada komunikasi antara aku dan Hirai. Menghindarinya, ya aku memang menghindarinya. Aku tak peduli dengan perasaanku padanya, juga perasaannya padaku. Toh aku dan dia tak kan bertemu saat kuliah. Aku akan melanjutkan sekolah ku di luar kota. Dengan begitu aku tak akan bertemu dengannya. Dan mungkin bisa melupakannya.
 “Kozue.” Hirai tiba-tiba muncul di hadapanku, aku harus bagaimana? Aku berbalik dan menjauh. Sekejap tanganku diraihnya. Aku ditarik masuk ke dalam pelukannya. Aku sesak. Air mataku mengalir tanpa bisa ku tahan.
“Hirai, aku . . lepaskan aku.”
“kenapa kau menghindariku? Kau lari dari ku, kenapa?” mata itu, mata yang menyeramkan itu datang lagi. Tubuhku lemas,Hirai memojokkanku di sudut ruang. Mengurungku dengan kedua tangannya yang kekar. Melihatku menangis, Hirai menurunkan nada bicaranya.
“Kozue, jawab aku. . tolong jawab aku.” Ada nada keputusasaan dalam kalimatnya, aku bisa merasakan itu.
“a. .aku tahu kau hanya menyiksa dirimu. Kau tak kan pernah bisa mencintaiku, Hirai. Kau hanya akan membuang waktumu sia-sia. Aku tahu ini hanya permainan. Aku tahu. . aku tahu semuanya.”
“Kozue, maaf . . maaf.” Baru kali ini aku melihat matanya sayu. Baru kali ini wajahnya tertunduk. Dia memelukku lagi. Aku merasakan pundakku mulai basah. Hirai menangis?
“Hirai, lepaskan aku. Biarkan aku pergi. Dengan begitu kau akan kembali seperti saat sebelum kau bersamaku. Maaf, aku membuatmu kalah dalam perjanjianmu, maaf.”
Aku mendorongnya perlahan. Sesaat kemudian aku berlari menjauh darinya. Sempat kudengar dia memanggilku. Tapi aku tak peduli. Aku terus berlari.


Sedikit waktu yang kuperlukan untuk jatuh cinta. Dan butuh begitu banyak air mata untuk melepaskannya. Dan aku sudah melepasnya.  Hmm, aku harus kembali seperti aku yang dulu. Hari ini aku ada janji dengan sahabat-sahabatku. Mannaka, Chihiro, bantu aku bersenang- senag hari ini ya !
“Mannaka, Chihiro..!” itu mereka.
“Ah, Kozue. Ayo berangkat. Mannaka, ayo !”
“Mannaka, kau terlihat murung. Apa tetap tak ada perkembangan?” kau terlihat lebih buruk dariku Mannaka, ada apa?
“Mannaka? Kau melamun?” Bahkan seorang Mannaka bisa jadi seperti ini.
“Ah, tidak, Chihiro.”
“Bagaimana perkembangannya.?”
 “e-em tak ada yang terjadi, Kozue” Mannaka hanya menjawab sekenanya? Aish tentu saja. Aku pun akan melakukannya saat ini bila ditanya mengenai Hirai, ah, Hirai.
“Aish, sudahlah Kozue, lebih baik kita bersenang-senang. Benar bukan, Mannaka?”
 “Ya. ah, ya, bagaimana dengan Daiki, Chihiro?”
“e-em, tak ada perkembangan juga. Bagaimana dengan Maruyama, Kozue?”
“Aish, sudah waktunya untukku berhenti berharap. Aku sedang tak ingin memikirkan masalah seperti itu. Ayo kita cari dvd drama korea.”
“Ayo.”
“Ya.”


“Kozue, di hari perpisahan seperti ini apa kau mau terlambat?” aish, tentu aku tak mau bu.
“eh, ia, bu. Ini aku sudah siap. Aku pergi dulu, bu. . daagh !”
Aku membuka pintu rumah dengan sepotong roti di tanganku. Ini adalah hari kelulusanku. Aku tak ingin -tentu saja- datang terlambat hari ini. Dan ketika pintu benar-benar telah kubuka lebar dan angin dingin menerpa wajahku, aku dapat melihat sosok yang ku kenali. Dia . . .
“Hi. .hirai !”
“hai.”
“kenapa kau disini?”
“kau lama sekali. Aku menunggumu dari tadi.”
“ me. .nunggu ku,”
“e-em, aku ingin berangkat ke sekolah denganmu untuk yang terakhir.”
Perasaan dingin yang mengalir menjadi hangat ini yang kurasakan saat pertama bertemu dengannya dulu. Dan ketika peristiwa surat itu. dan saat aku menemaninya membaca surat dan ia ternyata hanya ingin bersantai. Dan saat dia memergoki ku saat akan kabur. Dan saat dia memelukku. Dan saat. . saat. Akh, aku tak ingin mengingatnya lagi.
“Hirai.”
“Tentang perjanjian itu aku mohon maafkan aku.”
“Aku sudah melupakannya,”
“Kozue, terimakasih, dengan melepasmu aku memenangkan perjanjian itu.”
“Hah! Ba. .bagaimana bisa?”
“Ya, begitulah. Aku tahu, jatuh cinta adalah ketika kau tak memaksa dirimu untuk jatuh, tapi kau hanya jatuh. Kozue, aku hanya jatuh. Apa kau bisa menerima itu?”
“Maaf, Hirai. Ya, aku menyukaimu, aku jatuh cinta padamu. Tapi aku . .tak semudah itu aku menerimanya, aku terlanjur . .”
“Aku mengerti, Kozue. Sepertinya kita akan terlambat.”
“Kita memang sudah terlambat, tau!”
“Ayo berangkat.”
“E-em.”

Kami berlari. Berlari menuju sekolah kami. Melewati hari terakhir kami. Kami berlari membelakangi kenangan dan menatap masa depan. Ini bukan akhir, kan, Hirai? Ini hanya awal dan kita harus meninggalkan yang lalu untuk jadi kenangan.
Aku akan mengingatnya. Hirai Maruyama.
 It just has to be love.
And fall in love is when you don’t force yourself to fall, you just fall.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar