Just has to be Love
“Yamashita-san, kau temannya Maruyama-kun
kan?”
“eh, em, hanya
teman sekelas,”
“Ah, baguslah,
aku ingin menitipkan surat ini untuknya. Tolong ya?”
“tapi, tapi. .
aku tak dekat dengannya. Bagaimana aku me . .”
“Ah, berikan
saja padanya. Mudah kan? Sudah ya, kami pergi dulu.”
Aish, seenaknya saja mereka. Kenapa tak
mereka berikan sendiri sih ! Aku jadi repot kan. Apalagi Hirai yang dingin itu.
. ih. . membayangkan bertatapan dengannya saja aku ngeri. Aduh, bagaimana,
bagaimana?
“Hey, itu. .
untukku, kan? Kenapa kau masukkan ke dalam tas?”
“Kyaa ! ! Hirai
! ah, eh. . iya, ini untukmu dari siswi kelas 3-2. Sudah ya , aku mau pulang.
Daagh !”
Ah, untung saja aku tak menatap matanya.
Bisa-bisa aku pingsan karena ketakutan. Eh, bagaimana bentuk wajahnya tadi ya?
Pasti seram. Jangn, jangan membayangkan, Kozue, jangan. .
“Kau ! Tunggu.”
“A. .apa?”
“Ikut aku !” aish, mati aku.
“A. .aku masih
ada urusan. Harus cepat-cepat. Daagh !” kabur,
kabuur. . harus cepat sebelum dia . . .aawww! tanganku !
“Kau mau
kemana, Kozue ! Kubilang ikut aku.”
“Tapi, tapi aku
. . .”
“Aish. Pokoknya
ikut aku, kau harus menemaniku membaca surat-surat ini.”
“A. .apa?!” arrgh sial !
Kalau sudah begini aku tak kan bisa kabur.
Tidaak. Lho? Kenapa dia malah duduk dan a. .apa? tidur? Apa dia sudah gila !
aku harus menemaninya membaca surat tapi dia malah tidur? Ah, ini kesempatan.
Bagus. Aku bisa kabur ! nah, Hirai, duduk dan tidurlah di kursi taman itu. .
aku mau kabur. Daagh ! hahaha. . .
“Hey, kau mau
kabur, Kozue?”
“eh. .si.
.siapa yang mau kabur, he. .hehe. .”
“jangan
tertawa, tawamu itu terlalu kau paksakan.”
“eh, ketahuan,
ya. Padahal kau sedang tidur. Tapi kau tahu apa yang terjadi disekelilingmu.”
“hemm, tentu
saja aku tahu. Duduk dan dengarlah. Tutup matamu.”
“tu. .tup ma.
.mata? hey kau mau apa?” ma. .matanya
menyeramkan. . lebih baik ku palingkan mukaku. Kozue, jangan pingsan. Tuhan
tolong aku. . apa dia masih menatapku?
“kalau kau
palingkan wajahmu seperti itu orang akan menganggapmu sombong.”
“kau tahu? Matamu
itu menyeramkan sekali ! “ ups ! aku tak
sengaja mengatakannya. Apa dia marah?
“be.
.benarkah?”
“Hirai? Kau tak
marah padaku?”
“tidak. Apa aku
begitu menyeramkan?”
“i. .iya, maaf
ya Hirai.?”
“tak apa,
ceritakan padaku.”
“apa?”
“kau bilang aku
menyeramkan. Ceritakan padaku kenapa kau menganggapku menyeramkan.”
“baiklah. Eh,
tapi bagaimana dengan surat-surat itu?”
“surat-surat?
Kau tahu aku mendapat banyak surat?”
Aish, kelepasan lagi. Sial ! Kozue,
tenangkan dirimu…
“ya, aku sering
melihatmu mendapat surat dari para fansmu. Hehee.”
“Tawamu kali
ini lebih ringan. Mereka tak menganggapku menyeramkan. Kenapa kau menganggapku
begitu?”
“maaf ya,
Hirai.”
“e-em, tak apa.
Kau mau kabur, kan? Pulanglah sekarang.”
“ah! Apa? Ya,
daagh Hirai.” Fiuuhh, akhirnya. . .
Hirai Maruyama. Dia adalah seorang teman di
kelasku. Harus ku akui dia tampan, dan tinggi, dan kaya. . Semua gadis di
sekolahku mungkin menyukainya. Termasuk aku. Aku tak bisa menyangkal bila
ditanya ‘apa kau menyukai Maruyama-kun?’. Tapi aku tak bisa menatapnya. Ada
perasaan yang menyesakkan bila aku melihat matanya. Pernah suatu kali aku
melihat matanya,dan aku tak dapat berbuat apa-apa. Padahal aku sedang
berbincang dengannya. Ah, bodohnya aku. Itulah kenapa ku bilang matanya
menyeramkan. Membiusku sampai-sampai aku mau pingsan. Hehee. .
“moshi moshi. .
ah, Hirai ! . . apa? Sekarang? Tapi ini kan hari libur . . tapi,tapi. . . aish
ia aku kesana sekarang! ” untuk apa Hirai
menyuruhku kesekolah? Padahal aku ingin melanjutkan lamunanku tentangnya. .
hmpf.
“Kozue ! Disini !”
“em. Hey ada apa kau menyuruhku
kesini?”
“temani aku, ya. .”
“a. .apa! dasar kau. Kukira ada
..”
“. . .”
“Hirai?” air mukanya berubah. Apa dia akan mengatakan hal yang serius?
“kau tahu?
“ah! Ti. .tidak. Apa?”
Greb,
“Hey Hirai ! apa yang kau lakukan
! Lepaskan pelukanmu !”
“aku hanya ingin beristirahat
sebentar dipunggungmu.’
“kau bicara
seakan-akan tak tidur ratusan tahun. Hey! Lepaskan !” kau tahu? Aku jantungku jadi berdebar-debar tahu !
“sebentar saja,
ya, Kozue.”
“. . .”
“Kozue, apa kau
tak menyukaiku?”
“a. .apa?”
“apa kau tak
ingin mengirimkan surat untukku?”
“aku? Aku .
.mungkin akan membuatnya.”
“benarkah? Apa
kau menyukaiku?”
“tentu
saja . . ka . .”
“jadilah
pacarku, ya Kozue !”
“kenapa aku,
Hirai?”
“pokoknya aku
mau kau jadi pacarku . .!”
“hwa .
.seenaknya saja !”
“haha. . .”
Hirai . . . tertawa? Sesak. Dadaku jadi
sesak karena dia. Apa maksudnya dengan ini semua? Hmm, ini baru permulaan.
“Hirai. Apa kau
sudah berhasil?”
“ ah, kau
Hatake. Ya, tentu saja.”
“apa kau
benar-benar melakukannya? Ingat perjanjian kita, Hirai. Ini tak akan semudah
yang kau kira. Yamashita-san . . .”
“ish ! kau tak
perlu khawatir. Aku akan menepati janjiku bila aku kalah.”
“baguslah. Apa
rencanamu sekarang?”
“aish. Itu
rahasia. Hahaa. .”
“heh? Tak
biasanya kau tertawa lepas seperti itu. kau sakit?”
“apa? Aku,
sakit? Hahaa, yang benar saja. Sudahlah. . aku pergi dulu.”
Semalaman aku tak dapat tidur nyenyak.
Pikiranku berbayang Hirai. Apa benar yang terjadi kemarin? Dadaku penuh sesak
olehnya. Hari Senin. Mestinya aku sekolah hari ini. Tapi tak mungkin dengan
keadaanku yang sekarang. Aku menatap malas wajahku dalam cermin. Mataku sayu.
Semalam, stetes dua tetes air mata jatuh membasahi bantal dan kasurku. Fiuh,
untung hanya sedikit, kalau banyak bisa-bisa mataku sembab. Argh . . .
“Kozue, apa kau
tak berangkat sekolah? Kau hamper telat, sayang.”
Ah, ibu. . apa kau tak tahu anakmu ini
sedang tidak ingin sekolah? Ku bukakan pintu untuknya. Ibu menatapku cemas.
Tentu saja, dengan mataku yang begini,
wajah kusut, badan lemas, siapa yang tak khawatir?
“ ibu, aku
sedang tak enak badan. .”
“apa kau
sakit?”
“e-em,
sepertinya begitu.”
“aish,
istirahatlah. Ibu akan buatkan bubur untukmu. Minum obatmu!”
“ia ibu.”
Siip ! Dengan begini aku tak akan kenapa-kenapa.
Aku bisa membayangkan seandainya aku berangkat sekolah. Chihiro dan Mannaka
pasti akan rebut sekali. Ah, apa aku harus mengatakan hal ini pada mereka?
Mungkin tak sekarang.
Lebih baik aku tidur. Rasanya mataku jadi
berkunang-kunang. Huaahm, selamat pagi dunia. .aku tidur dulu.
“moshi moshi,”
“kyaa, Kozue.
Kau sakit? Kenapa tak ada di sekolah?”
“ah, Mannaka.
Ya, badanku agak lemas, bagaimana di sekolah?”
“ya begitulah,
sama membosankannya dengan hari-hari kemarin. Ah, Kozue, kami ada di depan
rumahmu sekarang. Apa kau akan kami mati kedinginan di sini?”
“a. .apa?
kenapa tak bilang dari tadi, !” Aish,
mereka itu bodoh atau apa sih? Ckck lagian ini kan sudah masuk musim semi, mana
mungkin kedinginan. Hahaa. .
Aku menuruni anak tangga yang ugh lumayan
membuatku kecapean. Rumahku berlantai tiga. Lantai satu untuk toko, lantai dua
untuk ruang tamu dan keluarga, dan lantai tiga untuk kamar anggota keluarga.
Nah, bisa dibayangkan bagaimana rasanya naik turun tangga di rumahku? Hosh !
Begitu ku buka pintu rumahku, Mannaka dan
Chihiro langsung memelukku. Mereka adalah sahabat-sahabatku. Dulu kami sekelas,
namun sudah dua tahun ini kami ada di kelas yang berbeda satu sama lain. Aku di
3-4,Mannaka di 3-1 dan Chihiro di 3-8. Meski begitu kami lebih tetap dekat.
“Kozue, ku dengar Maruyama-kun mencarimu
tadi.”
“Hei Chihiro,
kau ini bukannya menanyakan keadaannya dulu. .”
“Oia, maaf ya
Kozue, bagaimana kabarmu?”
“yah,
beginilah. Aku sudah lebih baik. Emm, apa benar Hirai mencariku, Chihiro?”
“Ya. Kata
Mannaka begitu. Aku tak tahu persis, ruang kelasku kan jauh dari ruang kelas
kalian.”
“Mannaka?”
“hemm, ia itu
benar. Dia mencarimu. Apa hubunganmu dengannya?”
Apa harus ku ceritakan sekarang saja?
Baiklah, mungkin ini saatnya.
“Kemarin aku
dan Hirai jadian. Kami pacaran sekarang.”
“kyaa ! apa
yang ku kaakan benar kan, Mannaka !”
“ia kau benar.
Hey, Kozue, apa kau tahu siapa Maruyama-kun?”
“a. .aku, ada
apa?”
“ku dengar dia
itu bukan laki-laki yang baik. Kau harus hati-hati.”
Benarkah? Selama ini Mannaka tak pernah
salah menilai orang. Mungkin aku memang harus mewaspadainya. Hirai, apa yang
kau inginkan? Aish, kau membuatku pusing.
Do it right. You’re really a bad boy, only having curiosity
rather than love.
Because of you, I’ve been fooled the entire time.
You’re no fun, you have no manners. You’re a devil,
devil you are.
You better run run run run run
I can’t see this anymore, so I’m going to reject him
. . .
Benarkah kau adalah bad boy, Hirai? Aku
membereskan ruang tamu setelah Mannaka dan Chihiro pulang sambil mendengarkan
lagu-lagu dari Sonyuh Shidae. Girlband asal korea yang juga terkenal sampai ke
telingaku. Badanku masih lemas, tapi bebanku serasa hilang separuhnya setelah
aku bercerita pada mereka.
“hey, Kozue.
Kemana saja kau?”
“ ah. .! Hirai?
Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?”
Hirai hanya menunjuk pintu toko yang terbuka
. Dia lalu memelukku dari belakang, aku ingin menghindar tapi . . dia terlalu
cepat menangkap tubuhku. Dagunya tepat berada di pundakku, disamping telingaku.
“Kozue, kemana saja
kau? Aku kesepian di sekolah. Apa kau sakit?” dia berbisik, aku yang sedari tadi hanya diam jadi salah tingkah. Aku yakin
wajahku memerah sekarang.
“kenapa kau
hanya diam?”
“Hirai,lepaskan
aku.”
“tidak bisa.
Aku menyukaimu, dan aku harus mencintaimu”
“a..apa
maksudmu dengan . .”
“sst, .
.pokoknya aku tak akan melepaskanmu.”
Apa ini? Harus mencintaiku? Kenapa harus
begitu. Aku berusaha melepaskan diri. Hirai malah semakin erat memelukku. Ish,
harus bagaimana ? Hirai membisikkan sesuatu di telingaku. Aku tak dapat mendengarnya
dengan jelas, hanya terdengar seperti desahan. Dia lalu melepaskanku. Tepat
saat itu, ibuku pulang. Ah, tepat waktu, bu. Hirai sepertinya tak ingin ada
pertanyaan, dan langsung berpamitan pulang.
“Hey, kenapa
kau?”
“tak apa. Hanya
saja aku sedikit merasa bersalah padanya.”
“siapa, Kozue?”
“. . .”
“Aku sudah
pernah mengatakannya kan, Hirai. Ini tak akan mudah. Ini bahkan lebih sulit
dari membuatnya mencintaimu. Kau yang harus mencintainya. Sekarang, bagaimana
prasaanmu?”
“aku. . argh
sudahlah. Jangan lagi membicarakan hal ini. “
“hey, boy,
sepertinya kita akan menang. ,”
“apa maksudmu?”
“kau pikirkan
saja sendiri. Hahaa. . sudah ya.”
“hey tunggu. .
. Hatake ! argh! Sial kau !”
Dua hari ini Hirai tak ada di kelas. Dan
semua orang bertanya padaku. Kenapa bertanya padaku? Selain itu para gadis dari
lain kelas juga menitipkan banyak surat padaku. Tentu saja untuk Hirai. Ish,
artinya aku harus mampir kerumahnya saat pulang nanti. Rumahku dan rumahnya
memang searah. Aku sering melihatnya saat pulang. Terlebih belakangan ini kami
sering pulang bersama.
“Nakanishi-kun,
apa kau tak tahu apa yang terjadi pada Hirai?” tanyaku saat bertemu Hatake Nakanishi kelas 3-3, yang setahuku adalah
teman dekat Hirai.
“Tidak, kenapa
kau tak menjenguknya?”
“menjenguknya?
A. .apa dia sakit?”
“. . .”
“kau pasti tahu
sesuatu, kan?”
“datanglah saja
kerumahnya. Sudah ya, kelasku sudah mulai. Kau juga kan, Yamashita-san.”
“Permisi.”
“Ya? Oh,
Yamashita-san. Mau menjenguk Hirai ya? Langsung saja ke kamarnya,”
Begitulah, ibu Hirai sepertinya hapal
denganku. Hahaa.. tentu saja, sejak jadi pacarku, Hirai sering mengajakku ke
rumahnya untuk sekedar bertemu dengan ibu Hirai. Aku heran, kenapa dia
melakukannya?
Kamar Hirai ada di lantai dua, tepat di
samping tangga. Aku mengetuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban. Apa dia sedang
tidur? Perlahan aku menggeser pintu agar tak membangunkan Hirai. Berantakan.
Sama seperti terakhir kali aku datang, dua minggu lalu.
Melihatnya sedang tidur, aku jadi tak tega
untuk marah karena ulah fansnya yang menitipkan surat mereka padaku. Hihihi.
.wajahnya lucu saat tidur.
Drrrt, drrrt. . ah, hp Hirai bergetar, apa
aku harus membangunkannya? Mungkin nanti saja.
“moshi moshi.”
“hey
Maruyama-kun. Apa kau sudah berhasil? Apa kau sudah jatuh cinta pada
yamashita-san? Ingatlah, waktumu akan segera habis untuk membuktikannya. Ah,
sepertinya kau harus menepati janjimu untuk taruhan ini. . . hahahaa. .”
Klik.
Suara di seberang sana menghilang. A. .apa
maksudnya semua ini? Hanya permainankah? Tapi kenapa Hirai mengorbankan
perasaannya? Untuk apa? Aku menahan air mataku. Semoga saja Hirai tak melihatku
begini. Dia pasti sangat sakit.
Hirai, hari ini cerah dan air mataku jatuh.
Apa kau tahu?
Seminggu berlalu tanpa ada komunikasi antara
aku dan Hirai. Menghindarinya, ya aku memang menghindarinya. Aku tak peduli
dengan perasaanku padanya, juga perasaannya padaku. Toh aku dan dia tak kan
bertemu saat kuliah. Aku akan melanjutkan sekolah ku di luar kota. Dengan
begitu aku tak akan bertemu dengannya. Dan mungkin bisa melupakannya.
“Kozue.”
Hirai tiba-tiba muncul di hadapanku, aku
harus bagaimana? Aku berbalik dan menjauh. Sekejap tanganku diraihnya. Aku
ditarik masuk ke dalam pelukannya. Aku sesak. Air mataku mengalir tanpa bisa ku
tahan.
“Hirai, aku . .
lepaskan aku.”
“kenapa kau
menghindariku? Kau lari dari ku, kenapa?” mata
itu, mata yang menyeramkan itu datang lagi. Tubuhku lemas,Hirai memojokkanku di
sudut ruang. Mengurungku dengan kedua tangannya yang kekar. Melihatku menangis,
Hirai menurunkan nada bicaranya.
“Kozue, jawab
aku. . tolong jawab aku.” Ada nada
keputusasaan dalam kalimatnya, aku bisa merasakan itu.
“a. .aku tahu
kau hanya menyiksa dirimu. Kau tak kan pernah bisa mencintaiku, Hirai. Kau
hanya akan membuang waktumu sia-sia. Aku tahu ini hanya permainan. Aku tahu. .
aku tahu semuanya.”
“Kozue, maaf .
. maaf.” Baru kali ini aku melihat
matanya sayu. Baru kali ini wajahnya tertunduk. Dia memelukku lagi. Aku
merasakan pundakku mulai basah. Hirai menangis?
“Hirai,
lepaskan aku. Biarkan aku pergi. Dengan begitu kau akan kembali seperti saat
sebelum kau bersamaku. Maaf, aku membuatmu kalah dalam perjanjianmu, maaf.”
Aku mendorongnya perlahan. Sesaat kemudian
aku berlari menjauh darinya. Sempat kudengar dia memanggilku. Tapi aku tak
peduli. Aku terus berlari.
Sedikit waktu yang kuperlukan untuk jatuh
cinta. Dan butuh begitu banyak air mata untuk melepaskannya. Dan aku sudah
melepasnya. Hmm, aku harus kembali
seperti aku yang dulu. Hari ini aku ada janji dengan sahabat-sahabatku.
Mannaka, Chihiro, bantu aku bersenang- senag hari ini ya !
“Mannaka,
Chihiro..!” itu mereka.
“Ah, Kozue.
Ayo berangkat. Mannaka, ayo !”
“Mannaka, kau
terlihat murung. Apa tetap tak ada perkembangan?” kau terlihat lebih buruk dariku Mannaka, ada apa?
“Mannaka? Kau
melamun?” Bahkan seorang Mannaka bisa
jadi seperti ini.
“Ah, tidak,
Chihiro.”
“Bagaimana
perkembangannya.?”
“e-em
tak ada yang terjadi, Kozue” Mannaka
hanya menjawab sekenanya? Aish tentu saja. Aku pun akan melakukannya saat ini
bila ditanya mengenai Hirai, ah, Hirai.
“Aish,
sudahlah Kozue, lebih baik kita bersenang-senang. Benar bukan, Mannaka?”
“Ya. ah, ya, bagaimana dengan Daiki, Chihiro?”
“e-em, tak
ada perkembangan juga. Bagaimana dengan Maruyama, Kozue?”
“Aish, sudah
waktunya untukku berhenti berharap. Aku sedang tak ingin memikirkan masalah
seperti itu. Ayo kita cari dvd drama korea.”
“Ayo.”
“Kozue, di
hari perpisahan seperti ini apa kau mau terlambat?” aish, tentu aku tak mau bu.
“eh, ia, bu.
Ini aku sudah siap. Aku pergi dulu, bu. . daagh !”
Aku membuka pintu rumah dengan sepotong roti
di tanganku. Ini adalah hari kelulusanku. Aku tak ingin -tentu saja- datang
terlambat hari ini. Dan ketika pintu benar-benar telah kubuka lebar dan angin
dingin menerpa wajahku, aku dapat melihat sosok yang ku kenali. Dia . . .
“Hi. .hirai
!”
“hai.”
“kenapa kau
disini?”
“kau lama
sekali. Aku menunggumu dari tadi.”
“ me. .nunggu
ku,”
“e-em, aku
ingin berangkat ke sekolah denganmu untuk yang terakhir.”
Perasaan dingin yang mengalir menjadi hangat
ini yang kurasakan saat pertama bertemu dengannya dulu. Dan ketika peristiwa
surat itu. dan saat aku menemaninya membaca surat dan ia ternyata hanya ingin
bersantai. Dan saat dia memergoki ku saat akan kabur. Dan saat dia memelukku.
Dan saat. . saat. Akh, aku tak ingin mengingatnya lagi.
“Hirai.”
“Tentang
perjanjian itu aku mohon maafkan aku.”
“Aku sudah
melupakannya,”
“Kozue,
terimakasih, dengan melepasmu aku memenangkan perjanjian itu.”
“Hah! Ba.
.bagaimana bisa?”
“Ya,
begitulah. Aku tahu, jatuh cinta adalah ketika kau tak memaksa dirimu untuk
jatuh, tapi kau hanya jatuh. Kozue, aku hanya jatuh. Apa kau bisa menerima
itu?”
“Maaf, Hirai.
Ya, aku menyukaimu, aku jatuh cinta padamu. Tapi aku . .tak semudah itu aku
menerimanya, aku terlanjur . .”
“Aku
mengerti, Kozue. Sepertinya kita akan terlambat.”
“Kita memang
sudah terlambat, tau!”
“Ayo
berangkat.”
“E-em.”
Kami berlari. Berlari menuju sekolah kami.
Melewati hari terakhir kami. Kami berlari membelakangi kenangan dan menatap
masa depan. Ini bukan akhir, kan, Hirai? Ini hanya awal dan kita harus
meninggalkan yang lalu untuk jadi kenangan.
Aku akan mengingatnya. Hirai Maruyama.
It just
has to be love.
And fall in love is when you don’t force
yourself to fall, you just fall.