"eh mana tugas lo? pasti belon lo kerjain ye?!" Raka datang. Biasa, Menggangguku. Mulutku hanya diam. Malas menanggapinya, hanya tanganku bergerak secepat mungkin menyerahkan beberapa lembar kertas ukuran A4 padanya.
"yah.. udah dikerjain. . yaudah deh,,"
"mau lo apa si? dikerjain salah.. kagak dikerjain salah.." aku mulai terpancing emosi.
"asik lo gue'nya keluar nih... hahaa" nah kan.. akhirnya aku beranjak dari tempatku. Membuang muka dan meninggalkan tasku terbuka tanpa peduli apa yang akan terjadi.
Tempat pelarianku adalah sebuah balkon. Sepi dan senyap yang selalu ada di angkasa balkon membuatku nyaman. Biasanya saat-saat aku berada di balkon adalah waktu yang menjemukan. Hati sedang tak ingin terusik? Atau sedang ingin menyendiri? Atau patah hati? Apapun itu, yang jelas..saat aku resah maka balkon ini tempat aku mengadu. Aku bukan tipe orang yang akan meluapkan kekesalan dengan teriakan. Aku hanya akan diam dan berbicara pada langit. Dari hati ke hati. Tanpa seorang pun mendengar. Tentu saja, aku hanya berbicara dalam hati.
"hhmmmmhh..."
Aku terkejut mendengar desahan seseorang dibelakangku, tapi malas untuk tahu siapa dia. Ku biarkan saja orang itu, semoga ia hanya lewat sebab aku mendengar derap kakinya terkesan buru-buru. Mungkin dia dapat SP (surat peringatan) dari dekan, pikirku. Atau sedang diputuskan pacarnya dan patah hati. Atau.. Atau.. aku mulai mengandai-andai, kebiasaanku saat memikirkan hal-hal yang tak pasti. Hanya untuk kesenangan.
"eh, Min.. lo ngerjain tugas asal-asalan ya? Masa kaya gni dibilang penutup? ini mah kepanjangan.." Arrgh Raakaaa!!!!
"lo gak ngasi bab pembahasan ke gue ya mana gue tau mesti nulis penutup kaya apa! Ngarang aja lo ya!"
"weis.. selow mba'.. oke deh gue yang salah.. tapi lo juga salah kali.. kenapa lo gag minta coba?"
Ni orang minta di hajar kali ya??! "Udah deh terserah lo aja, mo gg dipake mo dipake terserah. mo dibuang juga silahkan." jawabku tandas.
"beuh, marah niih ceritanya.. Ntar tambah cantik lho !"
"gue emang cantik dari sananya." aku berlalu setelah menjawabnya asal, meninggalkan tempat favoritku. Masih kudengar dia terkekeh perlahan. Tapi tak ku hiraukan. "peduli amat tuh orang mo ngapain juga.." aku bergumam lirih.
Aku kembali ke kelas. Suntuk membuatku malas mengikuti kuliah hari ini. Kuambil kasar tasku yang hanya berisi satu binder, tempat pensil dan dompet.
Pltak!! sesuatu jatuh dari tasku.
"kado? bukannya ulang tahunmu udah lewat ya Min?" Zea muncul di belakangku.
"ah? eh, ia Ze.. aku juga bingung" ucapku sambil kaget. Sambil kaget?
"cieeh jangan-jangan dari secret admirer nih.. mana kotaknya motif bunga-bunga lagi.. "
"apa sih, kalo di drama tv kado dari secret admirer mah biasanya motif lope-lope Ze.."
"huu ngarep deh.. hahaa" kami lalu tertawa bersama.
" eh btw, kamu ngapain kesini?"
"ye.. kan ada kuliah.." oia.. aku lupa niatku datang ke kelas untuk ambil tas lalu kabur..
"Zea, aku bolos ya.. " ucapku sembari beranjak dari deretan kursi kuliah.
"eh.. Min.. Dosennya udah masuk noh!" Zea berkata setengah teriak setengah berbisik.
oh my God! Bu Albino- sebenarnya namanya Bu Rukmini, hanya kulitnya terlalu putih jadi kami memanggilnya Bu Albino- sudah berada di ambang pintu bagian dalam. Berlenggang santai dengan satu tas berisi laptop ungu miliknya. dosen yang satu ini memang Purple Freaker. Dari dompet sampe eye linernya berwarna ungu. hmmpf terpaksa aku mengikuti kuliah hari ini. Gagal deh acara nongkrong di balkon sesiangan. "Tapi, kalaupun jadi..kan ada Raka disana." aku bergumam pelan sambil kembali duduk di kursiku.
"eh? kenapa sama Raka, Min? rupanya Zea mendengar gumamanku.
"engg ga pa pa. gag kenapa-napa kok."
"nah lo lagi mikirin Raka ya..."
"eh siapa yang lagi mikirin gue?" kami menoleh. Raka duduk sambil menjulurkan wajahnya antusias. Ada senyum yang manis -pake banget- di bibirnya?
"ih kege-eran lo" jawabku
"cieh cieh ternyata ya.. Minni punya gebetan baru... Ehhem Minni, Mas Deni dikemanain?? eh ia kan Mas Deni udah jadian ama temen koasnya ya.. upps!"
"engg?! Mas Deni?" tanyaku kaget..
"emm, iia Min, emang kamu belum tau? aku kira mas Dimas udah ngasi tau?"
Aku menggeleng. "belakangan aku belum ke Cafe lagi, Ze."
"Aku juga taunya baru kemaren, pas ngedate sama Mas Dimas.. Dia crita gitu."
"Nge.. ngedate? Kamu sama Mas Dimas?"
"hehee iia, Min.. Dua hari lalu aku jadian sma mas Dimas. hehee"
"oo..oohh se..selamat ya.. Ze.." aku memaksakan senyum untuk Zea.
To be continued.............
"yah.. udah dikerjain. . yaudah deh,,"
"mau lo apa si? dikerjain salah.. kagak dikerjain salah.." aku mulai terpancing emosi.
"asik lo gue'nya keluar nih... hahaa" nah kan.. akhirnya aku beranjak dari tempatku. Membuang muka dan meninggalkan tasku terbuka tanpa peduli apa yang akan terjadi.
Tempat pelarianku adalah sebuah balkon. Sepi dan senyap yang selalu ada di angkasa balkon membuatku nyaman. Biasanya saat-saat aku berada di balkon adalah waktu yang menjemukan. Hati sedang tak ingin terusik? Atau sedang ingin menyendiri? Atau patah hati? Apapun itu, yang jelas..saat aku resah maka balkon ini tempat aku mengadu. Aku bukan tipe orang yang akan meluapkan kekesalan dengan teriakan. Aku hanya akan diam dan berbicara pada langit. Dari hati ke hati. Tanpa seorang pun mendengar. Tentu saja, aku hanya berbicara dalam hati.
"hhmmmmhh..."
Aku terkejut mendengar desahan seseorang dibelakangku, tapi malas untuk tahu siapa dia. Ku biarkan saja orang itu, semoga ia hanya lewat sebab aku mendengar derap kakinya terkesan buru-buru. Mungkin dia dapat SP (surat peringatan) dari dekan, pikirku. Atau sedang diputuskan pacarnya dan patah hati. Atau.. Atau.. aku mulai mengandai-andai, kebiasaanku saat memikirkan hal-hal yang tak pasti. Hanya untuk kesenangan.
"eh, Min.. lo ngerjain tugas asal-asalan ya? Masa kaya gni dibilang penutup? ini mah kepanjangan.." Arrgh Raakaaa!!!!
"lo gak ngasi bab pembahasan ke gue ya mana gue tau mesti nulis penutup kaya apa! Ngarang aja lo ya!"
"weis.. selow mba'.. oke deh gue yang salah.. tapi lo juga salah kali.. kenapa lo gag minta coba?"
Ni orang minta di hajar kali ya??! "Udah deh terserah lo aja, mo gg dipake mo dipake terserah. mo dibuang juga silahkan." jawabku tandas.
"beuh, marah niih ceritanya.. Ntar tambah cantik lho !"
"gue emang cantik dari sananya." aku berlalu setelah menjawabnya asal, meninggalkan tempat favoritku. Masih kudengar dia terkekeh perlahan. Tapi tak ku hiraukan. "peduli amat tuh orang mo ngapain juga.." aku bergumam lirih.
Aku kembali ke kelas. Suntuk membuatku malas mengikuti kuliah hari ini. Kuambil kasar tasku yang hanya berisi satu binder, tempat pensil dan dompet.
Pltak!! sesuatu jatuh dari tasku.
"kado? bukannya ulang tahunmu udah lewat ya Min?" Zea muncul di belakangku.
"ah? eh, ia Ze.. aku juga bingung" ucapku sambil kaget. Sambil kaget?
"cieeh jangan-jangan dari secret admirer nih.. mana kotaknya motif bunga-bunga lagi.. "
"apa sih, kalo di drama tv kado dari secret admirer mah biasanya motif lope-lope Ze.."
"huu ngarep deh.. hahaa" kami lalu tertawa bersama.
" eh btw, kamu ngapain kesini?"
"ye.. kan ada kuliah.." oia.. aku lupa niatku datang ke kelas untuk ambil tas lalu kabur..
"Zea, aku bolos ya.. " ucapku sembari beranjak dari deretan kursi kuliah.
"eh.. Min.. Dosennya udah masuk noh!" Zea berkata setengah teriak setengah berbisik.
oh my God! Bu Albino- sebenarnya namanya Bu Rukmini, hanya kulitnya terlalu putih jadi kami memanggilnya Bu Albino- sudah berada di ambang pintu bagian dalam. Berlenggang santai dengan satu tas berisi laptop ungu miliknya. dosen yang satu ini memang Purple Freaker. Dari dompet sampe eye linernya berwarna ungu. hmmpf terpaksa aku mengikuti kuliah hari ini. Gagal deh acara nongkrong di balkon sesiangan. "Tapi, kalaupun jadi..kan ada Raka disana." aku bergumam pelan sambil kembali duduk di kursiku.
"eh? kenapa sama Raka, Min? rupanya Zea mendengar gumamanku.
"engg ga pa pa. gag kenapa-napa kok."
"nah lo lagi mikirin Raka ya..."
"eh siapa yang lagi mikirin gue?" kami menoleh. Raka duduk sambil menjulurkan wajahnya antusias. Ada senyum yang manis -pake banget- di bibirnya?
"ih kege-eran lo" jawabku
"cieh cieh ternyata ya.. Minni punya gebetan baru... Ehhem Minni, Mas Deni dikemanain?? eh ia kan Mas Deni udah jadian ama temen koasnya ya.. upps!"
"engg?! Mas Deni?" tanyaku kaget..
"emm, iia Min, emang kamu belum tau? aku kira mas Dimas udah ngasi tau?"
Aku menggeleng. "belakangan aku belum ke Cafe lagi, Ze."
"Aku juga taunya baru kemaren, pas ngedate sama Mas Dimas.. Dia crita gitu."
"Nge.. ngedate? Kamu sama Mas Dimas?"
"hehee iia, Min.. Dua hari lalu aku jadian sma mas Dimas. hehee"
"oo..oohh se..selamat ya.. Ze.." aku memaksakan senyum untuk Zea.
To be continued.............








.png)










