Rabu, 25 Juli 2012

What a Dream I Wanna Make it True (part 4)

"eh mana tugas lo? pasti belon lo kerjain ye?!" Raka datang. Biasa, Menggangguku. Mulutku hanya diam. Malas menanggapinya, hanya tanganku bergerak secepat mungkin menyerahkan beberapa lembar kertas ukuran A4 padanya.
"yah.. udah dikerjain. . yaudah deh,,"
"mau lo apa si? dikerjain salah.. kagak dikerjain salah.." aku mulai terpancing emosi.
"asik lo gue'nya keluar nih... hahaa" nah kan.. akhirnya aku beranjak dari tempatku. Membuang muka dan meninggalkan tasku terbuka tanpa peduli apa yang akan terjadi.

Tempat pelarianku adalah sebuah balkon. Sepi dan senyap yang selalu ada di angkasa balkon membuatku nyaman. Biasanya saat-saat aku berada di balkon adalah waktu yang menjemukan. Hati sedang tak ingin terusik? Atau sedang ingin menyendiri? Atau patah hati? Apapun itu, yang jelas..saat aku resah maka balkon ini tempat aku mengadu. Aku bukan tipe orang yang akan meluapkan kekesalan dengan teriakan. Aku hanya akan diam dan berbicara pada langit. Dari hati ke hati. Tanpa seorang pun mendengar. Tentu saja, aku hanya berbicara dalam hati.

"hhmmmmhh..."
Aku terkejut mendengar desahan seseorang dibelakangku, tapi malas untuk tahu siapa dia. Ku biarkan saja orang itu, semoga ia hanya lewat sebab aku mendengar derap kakinya terkesan buru-buru. Mungkin dia dapat SP (surat peringatan) dari dekan, pikirku. Atau sedang diputuskan pacarnya dan patah hati. Atau.. Atau.. aku mulai mengandai-andai, kebiasaanku saat memikirkan hal-hal yang tak pasti. Hanya untuk kesenangan.
"eh, Min.. lo ngerjain tugas asal-asalan ya? Masa kaya gni dibilang penutup? ini mah kepanjangan.." Arrgh Raakaaa!!!!
"lo gak ngasi bab pembahasan ke gue ya mana gue tau mesti nulis penutup kaya apa! Ngarang aja lo ya!"
"weis.. selow mba'.. oke deh gue yang salah.. tapi lo juga salah kali.. kenapa lo gag minta coba?"
Ni orang minta di hajar kali ya??! "Udah deh terserah lo aja, mo gg dipake mo dipake terserah. mo dibuang juga silahkan." jawabku tandas.

"beuh, marah niih ceritanya.. Ntar tambah cantik lho !"

"gue emang cantik dari sananya." aku berlalu setelah menjawabnya asal, meninggalkan tempat favoritku. Masih kudengar dia terkekeh perlahan. Tapi tak ku hiraukan. "peduli amat tuh orang mo ngapain juga.." aku bergumam lirih.


Aku kembali ke kelas. Suntuk membuatku malas mengikuti kuliah hari ini. Kuambil kasar tasku yang hanya berisi satu binder, tempat pensil dan dompet.
Pltak!! sesuatu jatuh dari tasku.

"kado? bukannya ulang tahunmu udah lewat ya Min?" Zea muncul di belakangku.
"ah? eh, ia Ze.. aku juga bingung" ucapku sambil kaget. Sambil kaget?
"cieeh jangan-jangan dari secret admirer nih.. mana kotaknya motif bunga-bunga lagi.. "
"apa sih, kalo di drama tv kado dari secret admirer mah biasanya motif lope-lope Ze.."
"huu ngarep deh.. hahaa" kami lalu tertawa bersama.
" eh btw, kamu ngapain kesini?"
"ye.. kan ada kuliah.." oia.. aku lupa niatku datang ke kelas untuk ambil tas lalu kabur..
"Zea, aku bolos ya.. " ucapku sembari beranjak dari deretan kursi kuliah.
"eh.. Min.. Dosennya udah masuk noh!" Zea berkata setengah teriak setengah berbisik.


oh my God! Bu Albino- sebenarnya namanya Bu Rukmini, hanya kulitnya terlalu putih jadi kami memanggilnya Bu Albino- sudah berada di ambang pintu bagian dalam. Berlenggang santai dengan satu tas berisi laptop ungu miliknya. dosen yang satu ini memang Purple Freaker. Dari dompet sampe eye linernya berwarna ungu. hmmpf terpaksa aku mengikuti kuliah hari ini. Gagal deh acara nongkrong di balkon sesiangan. "Tapi, kalaupun jadi..kan ada Raka disana." aku bergumam pelan sambil kembali duduk di kursiku.

"eh? kenapa sama Raka, Min? rupanya Zea mendengar gumamanku.
"engg ga pa pa. gag kenapa-napa kok."
"nah lo lagi mikirin Raka ya..."

"eh siapa yang lagi mikirin gue?" kami menoleh. Raka duduk sambil menjulurkan wajahnya antusias. Ada senyum yang manis -pake banget- di bibirnya?
"ih kege-eran lo" jawabku
"cieh cieh ternyata ya.. Minni punya gebetan baru... Ehhem Minni, Mas Deni dikemanain?? eh ia kan Mas Deni udah jadian ama temen koasnya ya.. upps!"
"engg?! Mas Deni?" tanyaku kaget..
"emm, iia Min, emang kamu belum tau? aku kira mas Dimas udah ngasi tau?"
Aku menggeleng. "belakangan aku belum ke Cafe lagi, Ze."
"Aku juga taunya baru kemaren, pas ngedate sama Mas Dimas.. Dia crita gitu."
"Nge.. ngedate? Kamu sama Mas Dimas?"
"hehee iia, Min.. Dua hari lalu aku jadian sma mas Dimas. hehee"
"oo..oohh se..selamat ya.. Ze.." aku memaksakan senyum untuk Zea.


To be continued.............





Selasa, 01 Mei 2012

What a Dream I Wanna Make it True (part 3)

"Minni cantik... abis kuliah kamu ikut aku bentar ya... kita ke cafe aku. yah itung-itung rasa terimakasih aku. Kan kamu udah ngajarin aku tadi sebelum quiz." ini yang aku suka dari Zea, selalu aj nraktir tanpa diminta. hahaa
"ok. emank kamu punya cafe? kok aku gag tau?"
"ada deh, nanti ikut aja ya..."

____________

Kuliah berakhir. Kini aku bersama Zea di dalam Jazznya meluncur ke suatu tempat yang aku ketahui sebagai cafe milik Zea. Sepanjang jalan Zea tak henti-hentinya bercerita tentang quiz tadi pagi dan cafe yang ia dan almarhumah ibunya bangun dua tahun lalu. Aku yang sedari tadi diam hanya sesekali merespon ceritanya dengan 'oia?' atau 'trus gimana?'  dan 'waw'.. Itu bukan masalah untuk Zea asal aku merespon ceritanya. Selang 15 menit semenjak aku masuk ke mobil, kami sampai di sebuah cafe yang sangat aku kenali. Sedikit terkejut saat pertama membaca papan namanya . Tapi sesaat kemudian aku langsung berusaha menguasai diri. Aku membaca sekali lagi papan nama itu dan berharap aku salah baca. "Chocola Cafe". Tepat. Tak ada yang berubah. Aku rasakan ada aliran darah yang lebih cepat dalam nadiku.

"yu' masuk Min." Zea mengajakku tanpa memperdulikan air mukaku yang mungkin kini telah berubah. aku mengangguk dan mngikutinya masuk.
"Oh, kamu tumben kesini Ze?" seseorang dari dalam menyapa Zea sesaat sebelum aku melewati pintu. Dengan segera aku mengetahui siapa itu. Mas Dimas. Aku tetap diam, hanya sebuah senyum yang ku kulum untuknya. 'Hari ini aku beruntung', batinku.
"iia, bawa temen nih. kenalin, namanya..."

"Hai, Minni." Mas Dimas langsung menyapaku tanpa menunggu Zea menyelesaikan ucapannya. Aku kini melebarkan senyumku. selebar dan semanis yang aku bisa.

"Lho? kalian udah saling kenal?" Zea memandang curiga. "Mas Deni kenal sama Minni?" Zea mengulang pertanyaannya. Aku bingung, Mas Deni?

"kamu sii jarang ke cafe, gag tau deh ama pelanggan setia kita." ucap lelaki yang Zea panggil Mas Deni itu, atau yang aku tahu Mas Dimas.

"hahaa Min, kamu gag bilang kalo sering ke sini..?"
"ye, kamunya juga gg nanya.." selorohku, masih dalam keadaan bingung.

Kami akhirnya duduk di kursi favoritku, di samping jendela besar yang menampilkan panorama kota yang sibuk. Aku memesan secangkir Chocolate Coffe. Segera setelah itu, pesananku datang.
"Ze, yang tadi itu....yang kamu panggil mas Deni.." aku memulai dengan ragu-ragu.
"kamu naksir?" tembak Zea
"ye.. bukan.....!!" sebenarnya iia, sedikit.." aku taunya dia itu mas Dimas" akhirnya bisa kuutarakan juga.
"ha? hahahaa kok bisa?" Zea menertawaiku.
"yaah, seminggu lalu aku kesini trus dilayani sama mas Dimas.........." kuceritakan semua yang aku tahu, termasuk salam yang dititipkan mas Dimas padaku.

"mungkin, yang kemarin kamu temui itu bener mas Dimas, mas Deni's twins.. kembarannya mas Deni. Denger-denger dia lagi koas di rumah sakit sini. Mungkin kemaren itu dia tumben mampir trus ketemu kamu deh. kalo mas Deni itu, dia general manager disini.. secara aku belom bisa manage nih cafe jadi deh mas Deni di sini.. "Zea membeberkan apa yang ia ketahui padaku.

"oh, pantes waitress kemaren bilang dia bukan waitress disini." tandasku. Padahal otakku masii belum mampu mencerna dengan baik. Kalo mas Dimas itu kembaran mas Deni dan dia jarang mampir kesini, darimana dia tau aku? aku bergumam sendiri saat Zea masuk ke dalam ruang karyawan.

Sesaat kemudian, Zea keluar bersama mas Dimas (atau mas Deni?). Entahlah. Aku menenggak habis minumanku, sembari menyembunyikan wajah.

"Min, ini dia mas Dimas. kalo yang disana mas Deni." Zea menunjuk ke satu pojok tempat kasir seharusnya berada. Aku melihat kearah yang ia tunjukkan. lalu menatap mas Dimas. Hemm mirip. sangat mirip.
"hhhmmmpppff" mas Dimas terkekeh. ia lalu duduk di kursi tepat di hadapanku. "bingung ya'?" ucapnya kemudian. Aku mengangguk. Kurasakan majahku memanas. Apalagi Zea meninggalkan kami berdua saja.

"ko' mas Dimas tau aku? padahal baru minggu kemaren ketemu kan?" ucapku tanpa basa basi. mas Dimas kembali terkekeh.
"siapa bilang, aku udah ketemu kamu beberapa kali kok. kamunya mungkin yang gag sadar. haha"
"dimana?"
"disini." ucapnya sambil tersenyum. aiiih manisnyaa.... batinku.

"kemaren-kemaren kebetulan Dimas sering main kesini, pas banget waktu kamu ada disini juga. Yah akhirnya Dimas tau deh siapa kamu." Mas Deni menghampiri kami, lalu duduk di sebelah mas Dimas. kami lalu ngobrol panjang dikali lebar sama dengan luas, dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai Talaut. Dari pembicaraan kami, aku semakin tertarik pada mas Dimas, dan.. pada mas Deni juga. Hahahaa



to be continued.............

Rabu, 25 April 2012

What a Dream I Wanna Make it True (part 2)

Jendela kamarku berembun ketika aku menghela nafas. Tugas kuliah menuntut untuk ku kerjakan. Tapi rasa-rasanya aku tak ingin megerjakannya, setidaknya untuk saat ini. Kulirik jam weker di meja belajar yang asyik berdetak. Pukul 17.45. Sayup-sayup terdengar adzan maghrib dari kejauhan. Segera saja kuambil air wudhu dan melaksakan hakku.

Masih kuingat kejadian semiggu lalu di Chocola Cafe. Dan masih tak habis pikir dengan kebetulan yang terjadi. Oh! tidak. Tidak ada kebetulan. Ini semua pasti telah direncanakan. Awalnya aku adalah pelanggan cafe itu. Lalu dia sering melihatku dan akhirnya mencari tau siapa aku. Yap. seperti itu. Tapi, tunggu. Bukankah dia bukan waitress di sana? Artinya, dia bukan sudah lama mengenalku. Lalu?

"riiing...riing..." ponsel monoponik usangku memanggil. Siapa sih? Maghrib maghrib gini telfon. Aku bergumam sendiri.
"assalamu'alaikum.." suara dari sebrang membuka percakapan. Zea..
"wa'alaikum salam. Zea mays..." jawabku malas-malasan.
"idiih.. zea mays lagi? jahat yaah Minni.."
"iia iia, ada apa? tumben jam segini telfon."
"emm. gimana yah.. besok berangkat duluan yu'? jam tujuh kurang gitu? aku mo nanya-nanya niih...?"
"oke," sambungan terputus dari seberang. Aku berceloteh sendiri karena kesal.

Semakin kesal saat melihat tumpukkan tugas di meja. Aku mnggigit-gigit kuku jari telunjukku. Berusaha mengembalikan mood yang telah rusak sejak tadi siang. Wajahku tampak berantakkan di cermin. Ada sesimpul senyum yang terkulum disana, memperlihatkan kegetiran. Inside me is just a mess. Tak tahan, aku menghambur ke peraduan. Tugas? Mungkin nanti.

__________

Damai menghilang. Hiruk pikuk orang berlari mngejar sesuatu yang rancu. Sebuah mobil combi dengan warna yang norak beserta isinya. Sofa butut berwarna krem pasta terdiam manis disamping combi itu. Diatasnya ada seorang pria terduduk sembari meminum sesuatu dari cangkir. Dari aromanya... coklat hangat. Orang-orang masih saja berlari mendekatinya dan berkumpul memperebutkan mobil combi itu. Aku tertarik, ku dekati mobil itu dan kulihat sekelilingnya. "di jual". Segaris tulisan menyapa mataku. Oh, jadi karena ini mereka berkumpul.

Acuh, aku melangkah menjauhi kerumunan. Lalu duduk dengan santainya pada sofa krem butut disebelahnya. Pria itu tersenyum, menawariku secangkir coklat hangat yang diminumnya. Tanpa pikir panjang, aku meraih cangkir itu, meminum isinya dan merasakan hangatnya di tenggorokanku. Aku lalu menatap pada pria itu. Mata sipit belo, bibir tipis, rambut lurus pendek, kulit putih. Aku mngenalnya. Segurat senyum lalu merekah di bibirku. Hanya sekilas aku melihatnya dengan sangat jelas, lalu kabur. Lalu berubah jelas dan aku mulai mengenalinya kembali. Wajah khas Jogja, kulit sawo matang, teman kuliahku. Raka?!

Aku berdiri terlonjak, berlari menjauh. Mencari sisi sepi dari semua kesibukan. Tubuhku terguncang pelan. Lalau sedikit demi sedikit aku kembali melihat cahaya lampu kamarku.

"mba Min.. bangun.. belom sholat kan?" suara nyaring adik perempuanku, Nara membuatku tergagap. Aku mengusap mataku kasar. Belum sadar antara nyata dan khayal. Mataku menatap sekeliling dan akhirnya terpaku pada secangkir minuman di meja. Coklat hangat. Pasti bunda yang membuatnya untukku.

Tak sabar menikmati coklat hangat, ku hampiri meja yang penuh dengan kertas dan buku, dan secangkir coklat hangat tentunya. Sembari menikmati coklatku, ponsel butut kuraih. Ada 4 sms. Raka, Dara, Dara, Dara.
Raka?

"Min, lo gue ksi bagian nyelsein bgian pnutup ya'." arggh, sial. Tugas lagi. Dasar Raka pembawa neraka!! umpatku. Raka adalah teman kuliahku. Dia selalu saja membuatku kesal dengan tingkah-tingkahnya yang sok jadi pemimpin. Bossy? bukan juga. Hobinya adalah mengerjai, mengejek dan membuatku salah tingkah. Bukan karena aku menyukainya. Tapi karena risih setiap dia ada di dekatku. Ah, gag penting banget mikir dia, umpatku lagi dalam hati.

Kubuka sms selanjutnya, dari Dara.
"Eh, say. Udah ktemu lgy gg ama waitressnya?" Dua sms yang lain berisi sama. Aku lalu mengetik beberapa kalimat di poselku.
"belom, aku blom k.cafe lgy." Sebelum menekan tobol send, aksiku terhenti. Bukan apa-apa, hanya saja pulsaku limited edition. Aku putuskan kembali pada tugasku setelah shalat Isya tanpa membalas satupun sms mereka.

Jam weker di kamar telah menunjukkan angka-angka muda. 02.13. Lelah menyergapku setelah 6 jam berkutat di atas meja. Sedikit lagi, pikirku. Kulanjutkan apa yang kulakukan. Semenit, dua menit aku mampu bertahan. Tapi sedetik kemudian mataku kembali menutup. Dalam diam aku berharap, bertemu kembali dengan mata sipit belo dan bibir tipis milik waitress 85.


to be continued...

Selasa, 24 April 2012

What a Dream I Wanna Make it True (part 1)

Siang begitu terik ikut meramaikan suasana hatiku yang tak menentu. Bad mood menyergapku dengan sengaja. Merusak hariku yang gersang. Kuputuskan untuk sejenak menenangkan diri, menyepi di tempat favoritku .. "chocola cafe" sepulang kuliah.

"Min.. Minni..!!" aish, siapa lagi itu? aku mencari sosok yang memanggilku barusan. "Min, mo kemana sih? buru-buru amat?"
"biasa, lagi pengen minum coklat.."
"iiihhh gag ngajak-ngajak. ikutan donk!" sial. Dara gag tau aj aku lagi pengen sendiri.
"ok, tapi traktir aku ya."
"siap."

Akhirnya, disinilah kami. Chocola Cafe. BERDUA. Seorang waitress datang ke meja kami. Dengan pakaian seragam yang sengaja ia rapikan terlebih dahulu. 
"pesen apa nih, mba-mba?"
" hot chocolate satu." aku menjawab acuh. sama sekali tak memperhatikan ataupun melihat wajahnya.
"chocolate coffe latte sama chocolate pudding with srowberry sauce satu. makasi ya mas.." kulirik Dara yang memesan dengan centilnya. Pasti ada sesuatu dengan pelayan muda itu. Kualihkan pandangan mataku kearah waitress yang masih sibuk mencatat pesanan kami. Lumayan, skor 85. Merasa diperhatikan, waitress itu balik memandangku lantas tersenyum. Sedetik kemudian dia berlalu. 

"Tadi.. liat gg Min, dia cakep ya?" Dara memulai pembicaraan. seperti biasa, matanya dengan lincah berputar saat membicarakan sesuatu yang membuatnya tertarik.
"hemm"
"berapa skornya?"
"85"
"yaah masa cuma 85? harusnya 95 kalii.."
"hemm"

Tak lama berselang, pesanan kami datang. Tapi bukan waitress tadi yang mengantarkannya. hemm mungkin dia sibuk? pikirku.
"ini pesanannya mba. Hot chocolate satu, chocolate coffe latte sama chocolate pudding with srowberry sauce satu. " 
"iia, makasih, mba.. oia, yang nganter kok bukan waitress yang tadi?" ini apa lagi sih Dara? doyan banget sama urusan orang...
"yang mana mba?"
"itu loh yang rambutnya pendek lurus-lurus, matanya sipit-sipit belo, bibirnya tipis, manis, tinggi putih."
"ooh yang laki-laki ya mba?" dara mngangguk kencang, waitress heran sambil melirik kearahku. Apa? kataku dalam hati.
"ooh sedang keluar mba." ia berkata sambil lalu menaruh pesanan kami di meja.
"mba, bukannya disini pelayannya cuma cewe' ya?" kali ini aku yang bertanya. Bukannya menjawab, waitress itu hanya mengendikkan bahu dan berlalu.

"kok kamu tau sih Min?" dara memulai sambil menikmati puddingnya.
"apa?"
"kalo' disini cuma ada waitress cewe' aja.."
"yaah, cafe langganan..."
"oia ya..? hahaa maap deh,"
"napa juga minta maap.."
"gag pa pa, hehehee."

Dara pulang lebih dulu dari aku. Lebih tepat aku mengusirnya pergi dengan alasan aku mau ketemu sama guru les kimiaku dulu. Dara yang anti kimia langsung kabur karenanya. Sejenak aku merasa nyaman duduk sendiri di tengah ruangan cafe yang tak begitu luas. Suasana tak begitu ramai, hanya beberapa pasangan yang duduk tak jauh dari tempatku. Aku mulai melamun lagi. memikirkan mimpi semalam. mengingat-ingat wajah mas Dimas agar aku dapat menemukannya. Kemudian lamunanku beralih ke waitress 85 tadi.


Sejurus aku tertegun dan segera beranjak dari kursi, mengambil tas dan menuju kasir. Dara pasti lupa membayar bagianku.

"mba', saya tadi pesan hot chocolate satu." ucapku sembari mengulurkan selembar uang bernilai Rp. 50.000
"oia, tunggu sebentar ya mba. ini kembalinya" ucap waitress yang sama dengan yang mengantarkan pesanan kami. kali ini dia bertugas di kasir.
" mba' tadi saya tanya sama mba dan belum dijawab. bukannya disini gag nerima waitress cowo'?"
"maaf mba, yang tadi itu bukan waitress.. dia..."
"ooh, ya udah mba' saya kira waitress disini."
" eh, mba, mas Dimas nitip salam buat mba." Di..Dimas?
"siapa?"
"itu tadi mas-mas yang nyatet pesenan mba, namanya mas Dimas." ....

to be continued...

What a Dream I Wanna Make it True (prolog)

"mba, bangun... adzan subuh tuh" suara ayah membangunkanku dari lelap. Sejenak aku terjaga, namun detik berikutnya aku kembali lelap. Aku tak ingin mimpi itu berakhir.
_____

Aku berjalan sendiri menikmati suasana senja. Rasa hatiku begitu rindu. Entah pada apa atau siapa. Hanya rindu. Jalan setapak di pinggir lapangan ku lalui tanpa berpikir hendak kemana aku pergi. Hingga akhirnya aku sampai pada jalan buntu.

Entah apa yang kupikirkan, aku hanya merasa bahwa tempat ini adalah tujuanku. aku melihat sebuah rumah mewah bercat dinding ungu. Aku membunyikan bel. tak ada jawaban. sekali lagi, dan hanya hening yang membalas.

"Mas Dimas, Mas Dimas.." aku membatin, dilanjutkan bergumam lirih. Dimas? Siapa? seperti mampu kembali berfikir, aku mengingat-ingat nama Dimas. Ada beberapa orang yang kukenal bernama Dimas. Kakak kelas saat SMA, kakak tingkat saat kuliah, tetangga, teman main saat SD, kakak dari temannya temanku yang juga jadi temanku. Siapa lagi? Ini Dimas yang mana?

Tiba-tiba pintu rumah tersebut dibuka oleh seseorang yang wajahnya sangat ku kenal. Mas Deni. Yaah, dia adalah salah satu top star di kampus. semua junior mungkin mengenalnya. Tidak, pasti mengenalnya.

"Dimas, ada yang nyari nihh." dia berteriak setelah melihatku di depan pintu.
"masuk aja dek, bentar lagi juga Dimas keluar." dia mempersilahkanku dengan sangat lembut. aku bingung, kenapa bukan dia yang ingin ku temui? kenapa seseorang bernama Dimas yang bahkan aku tak mengenalinya?

"gak ah mas, mkasih, aku nunggu diluar aja." aku menolak.

seseorang keluar menyusul mas Deni. Dia lah Mas Dimas. Wajahnya. Aku tak mampu mengingat wajah itu. kemudian aku tersadar dan teringat akan siapa mas Dimas. Ini sebuah mimpi. seperti mimpi-mimpi sebelumnya. aku tak pernah melihat dengan jelas wajah mas Dimas.

Mas Dimas menggandeng tanganku. mengajakku masuk ke rumahnya. Aku menolak. Aku lalu keluar dari halaman rumah bercat dinding ungu itu. Mas Dimas mengejarku. Kembali menggandeng tangan kiriku dengan tangan kirinya. Tangan kanannya mendekap bahu kananku. Seketika itu aku merasa nyaman. Seketika itu pula aku tak ingin waktu berlalu ataupun terbangun dari mimpi.

Kami berbicara satu sama lain. Entah apa yang kami bicarakan, aku sama sekali tak mengingatnya. Waktu beranjak malam dalam mimpiku. Seperti mengerti isi hatiku, Mas Dimas menawarkan agar ia mengantarku ke rumah, dan aku menolak.

Sedetik kemudian Mas Dimas meraih tanganku, dan menariknya hingga aku berada dalam pelukannya. Lama. Lama hingga aku terbangun.

to be continued...

Jumat, 23 Maret 2012

Manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) di Bidang Pengolahan Pangan

Seiring perkembangan teknologi, sudah sepantasnya calon sarjana yang nantinya turun ke dunia kerja mengetahui dan menguasai penggunaan komputer. Seperti kita ketahui bersama bahwa manfaat ICT cukup beragam yang intinya mempermudah kegiatan manusia, misalnya dalam bidang industri, pendidikan, perbankan, kedokteran, pertanian, dan lain sebagainya.

Kini dalam dunia teknologi  pengolahan pangan, pun diperlukan ICT. Terutama pada bidang teknologi industri pangan. Antara lain meliputi penggunaan software komputer dalam manajemen produksi dan pemasaran. Dalam manajemen produksi membutuhkan komputer untuk mengontrol proses produksi dari awal perencanaan hingga proses pengeluaran / penjualan barang jadi, yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan manajemen organisasi.

Aplikasi komputer pengontrol proses produksi mencakup proses perencanaan bahan baku, biaya produksi, jumlah produksi, kapasitas dan jumlah mesin, hasil proses produksi, dan laporan nilai produksi. Sedangkan aplikasi pengontrol penjualan barang jadi meliputi stok kontrol, cetak fraktur, nilai penjualan, laporan stok, laporan penjualan per kelompok detail penjualan. 

E-pertanian adalah bidang yang berfokus pada peningkatan pembangunan pertanian dan pedesaan melalui peningkatan proses komunikasi dan informasi. E-Pertanian melibatkan konseptualisasi, desain, pengembangan, evaluasi dan penerapan cara-cara inovatif untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) pada domain pedesaan, dengan fokus utama pada pertanian.

Lazimnya,komponen ICT dapat dikelompokkan menjadi: 
  • technoware (fasilitas fisik, seperti mesin)
  • humanware (ketrampilan/kemampuan tenaga kerja -SDM)
  • infoware (informasi data)
  • orgaware (organisasi)
Misalnya untuk tingkat pengembangan suatu perusahaan pengolahan hasil panen,  bantuan ICT sangat berpengaruh pada proses kegiatan perusahaan tersebut, seperti telah dijelaskan diatas. Yakni meliputi proses produksi dan pemasaran.

Kamis, 08 Maret 2012

Just Have to be Love


Just has to be Love




 “Yamashita-san, kau temannya Maruyama-kun kan?”
“eh, em, hanya teman sekelas,”
“Ah, baguslah, aku ingin menitipkan surat ini untuknya. Tolong ya?”
“tapi, tapi. . aku tak dekat dengannya. Bagaimana aku me . .”
“Ah, berikan saja padanya. Mudah kan? Sudah ya, kami pergi dulu.”
Aish, seenaknya saja mereka. Kenapa tak mereka berikan sendiri sih ! Aku jadi repot kan. Apalagi Hirai yang dingin itu. . ih. . membayangkan bertatapan dengannya saja aku ngeri. Aduh, bagaimana, bagaimana?
“Hey, itu. . untukku, kan? Kenapa kau masukkan ke dalam tas?”
“Kyaa ! ! Hirai ! ah, eh. . iya, ini untukmu dari siswi kelas 3-2. Sudah ya , aku mau pulang. Daagh !”
Ah, untung saja aku tak menatap matanya. Bisa-bisa aku pingsan karena ketakutan. Eh, bagaimana bentuk wajahnya tadi ya? Pasti seram. Jangn, jangan membayangkan, Kozue, jangan. .
“Kau ! Tunggu.”
“A. .apa?”
“Ikut aku !” aish, mati aku.
“A. .aku masih ada urusan. Harus cepat-cepat. Daagh !” kabur, kabuur. . harus cepat sebelum dia . . .aawww! tanganku !
“Kau mau kemana, Kozue ! Kubilang ikut aku.”
“Tapi, tapi aku . . .”
“Aish. Pokoknya ikut aku, kau harus menemaniku membaca surat-surat ini.”
“A. .apa?!” arrgh sial !


Kalau sudah begini aku tak kan bisa kabur. Tidaak. Lho? Kenapa dia malah duduk dan a. .apa? tidur? Apa dia sudah gila ! aku harus menemaninya membaca surat tapi dia malah tidur? Ah, ini kesempatan. Bagus. Aku bisa kabur ! nah, Hirai, duduk dan tidurlah di kursi taman itu. . aku mau kabur. Daagh ! hahaha. . .
“Hey, kau mau kabur, Kozue?”
“eh. .si. .siapa yang mau kabur, he. .hehe. .”
“jangan tertawa, tawamu itu terlalu kau paksakan.”
“eh, ketahuan, ya. Padahal kau sedang tidur. Tapi kau tahu apa yang terjadi disekelilingmu.”
“hemm, tentu saja aku tahu. Duduk dan dengarlah. Tutup matamu.”
“tu. .tup ma. .mata? hey kau mau apa?” ma. .matanya menyeramkan. . lebih baik ku palingkan mukaku. Kozue, jangan pingsan. Tuhan tolong aku. . apa dia masih menatapku?
“kalau kau palingkan wajahmu seperti itu orang akan menganggapmu sombong.”
“kau tahu? Matamu itu menyeramkan sekali ! “ ups ! aku tak sengaja mengatakannya. Apa dia marah?
“be. .benarkah?”
“Hirai? Kau tak marah padaku?”
“tidak. Apa aku begitu menyeramkan?”
“i. .iya, maaf ya Hirai.?”
“tak apa, ceritakan padaku.”
“apa?”
“kau bilang aku menyeramkan. Ceritakan padaku kenapa kau menganggapku menyeramkan.”
“baiklah. Eh, tapi bagaimana dengan surat-surat itu?”
“surat-surat? Kau tahu aku mendapat banyak surat?”
Aish, kelepasan lagi. Sial ! Kozue, tenangkan dirimu…
“ya, aku sering melihatmu mendapat surat dari para fansmu. Hehee.”
“Tawamu kali ini lebih ringan. Mereka tak menganggapku menyeramkan. Kenapa kau menganggapku begitu?”
“maaf ya, Hirai.”
“e-em, tak apa. Kau mau kabur, kan? Pulanglah sekarang.”
“ah! Apa? Ya, daagh Hirai.” Fiuuhh, akhirnya. . .


Hirai Maruyama. Dia adalah seorang teman di kelasku. Harus ku akui dia tampan, dan tinggi, dan kaya. . Semua gadis di sekolahku mungkin menyukainya. Termasuk aku. Aku tak bisa menyangkal bila ditanya ‘apa kau menyukai Maruyama-kun?’. Tapi aku tak bisa menatapnya. Ada perasaan yang menyesakkan bila aku melihat matanya. Pernah suatu kali aku melihat matanya,dan aku tak dapat berbuat apa-apa. Padahal aku sedang berbincang dengannya. Ah, bodohnya aku. Itulah kenapa ku bilang matanya menyeramkan. Membiusku sampai-sampai aku mau pingsan. Hehee. .
“moshi moshi. . ah, Hirai ! . . apa? Sekarang? Tapi ini kan hari libur . . tapi,tapi. . . aish ia aku kesana sekarang! ” untuk apa Hirai menyuruhku kesekolah? Padahal aku ingin melanjutkan lamunanku tentangnya. . hmpf.
“Kozue ! Disini !”
“em. Hey ada apa kau menyuruhku kesini?”
“temani aku, ya. .”
“a. .apa! dasar kau. Kukira ada ..”
“. . .”
“Hirai?” air mukanya berubah. Apa dia akan mengatakan hal yang serius?
“kau tahu?
“ah! Ti. .tidak. Apa?”
 Greb,
“Hey Hirai ! apa yang kau lakukan ! Lepaskan pelukanmu !”
“aku hanya ingin beristirahat sebentar dipunggungmu.’
“kau bicara seakan-akan tak tidur ratusan tahun. Hey! Lepaskan !” kau tahu? Aku jantungku jadi berdebar-debar  tahu  !
“sebentar saja, ya, Kozue.”
“. . .”
“Kozue, apa kau tak menyukaiku?”
“a. .apa?”
“apa kau tak ingin mengirimkan surat untukku?”
“aku? Aku . .mungkin akan membuatnya.”
“benarkah? Apa kau menyukaiku?”
“tentu saja  . . ka . .”
“jadilah pacarku, ya Kozue !”
“kenapa aku, Hirai?”
“pokoknya aku mau kau jadi pacarku . .!”
“hwa . .seenaknya saja !”
“haha. . .”
Hirai . . . tertawa? Sesak. Dadaku jadi sesak karena dia. Apa maksudnya dengan ini semua? Hmm, ini baru permulaan.


“Hirai. Apa kau sudah berhasil?”
“ ah, kau Hatake. Ya, tentu saja.”
“apa kau benar-benar melakukannya? Ingat perjanjian kita, Hirai. Ini tak akan semudah yang kau kira. Yamashita-san . . .”
“ish ! kau tak perlu khawatir. Aku akan menepati janjiku bila aku kalah.”
“baguslah. Apa rencanamu sekarang?”
“aish. Itu rahasia. Hahaa. .”
“heh? Tak biasanya kau tertawa lepas seperti itu. kau sakit?”
“apa? Aku, sakit? Hahaa, yang benar saja. Sudahlah. . aku pergi dulu.”


Semalaman aku tak dapat tidur nyenyak. Pikiranku berbayang Hirai. Apa benar yang terjadi kemarin? Dadaku penuh sesak olehnya. Hari Senin. Mestinya aku sekolah hari ini. Tapi tak mungkin dengan keadaanku yang sekarang. Aku menatap malas wajahku dalam cermin. Mataku sayu. Semalam, stetes dua tetes air mata jatuh membasahi bantal dan kasurku. Fiuh, untung hanya sedikit, kalau banyak bisa-bisa mataku sembab. Argh . . .
“Kozue, apa kau tak berangkat sekolah? Kau hamper telat, sayang.”
Ah, ibu. . apa kau tak tahu anakmu ini sedang tidak ingin sekolah? Ku bukakan pintu untuknya. Ibu menatapku cemas. Tentu saja, dengan mataku yang  begini, wajah kusut, badan lemas, siapa yang tak khawatir?
“ ibu, aku sedang tak enak badan. .”
“apa kau sakit?”
“e-em, sepertinya begitu.”
“aish, istirahatlah. Ibu akan buatkan bubur untukmu. Minum obatmu!”
“ia ibu.”
Siip ! Dengan begini aku tak akan kenapa-kenapa. Aku bisa membayangkan seandainya aku berangkat sekolah. Chihiro dan Mannaka pasti akan rebut sekali. Ah, apa aku harus mengatakan hal ini pada mereka? Mungkin tak sekarang.
Lebih baik aku tidur. Rasanya mataku jadi berkunang-kunang. Huaahm, selamat pagi dunia. .aku tidur dulu.


“moshi moshi,”
“kyaa, Kozue. Kau sakit? Kenapa tak ada di sekolah?”
“ah, Mannaka. Ya, badanku agak lemas, bagaimana di sekolah?”
“ya begitulah, sama membosankannya dengan hari-hari kemarin. Ah, Kozue, kami ada di depan rumahmu sekarang. Apa kau akan kami mati kedinginan di sini?”
“a. .apa? kenapa tak bilang dari tadi, !” Aish, mereka itu bodoh atau apa sih? Ckck lagian ini kan sudah masuk musim semi, mana mungkin kedinginan. Hahaa. .
Aku menuruni anak tangga yang ugh lumayan membuatku kecapean. Rumahku berlantai tiga. Lantai satu untuk toko, lantai dua untuk ruang tamu dan keluarga, dan lantai tiga untuk kamar anggota keluarga. Nah, bisa dibayangkan bagaimana rasanya naik turun tangga di rumahku? Hosh !
Begitu ku buka pintu rumahku, Mannaka dan Chihiro langsung memelukku. Mereka adalah sahabat-sahabatku. Dulu kami sekelas, namun sudah dua tahun ini kami ada di kelas yang berbeda satu sama lain. Aku di 3-4,Mannaka di 3-1 dan Chihiro di 3-8. Meski begitu kami lebih tetap dekat.
Kozue, ku dengar Maruyama-kun mencarimu tadi.”
“Hei Chihiro, kau ini bukannya menanyakan keadaannya dulu. .”
“Oia, maaf ya Kozue, bagaimana kabarmu?”
“yah, beginilah. Aku sudah lebih baik. Emm, apa benar Hirai mencariku, Chihiro?”
“Ya. Kata Mannaka begitu. Aku tak tahu persis, ruang kelasku kan jauh dari ruang kelas kalian.”
“Mannaka?”
“hemm, ia itu benar. Dia mencarimu. Apa hubunganmu dengannya?”
Apa harus ku ceritakan sekarang saja? Baiklah, mungkin ini saatnya.
“Kemarin aku dan Hirai jadian. Kami pacaran sekarang.”
“kyaa ! apa yang ku kaakan benar kan, Mannaka !”
“ia kau benar. Hey, Kozue, apa kau tahu siapa Maruyama-kun?”
“a. .aku, ada apa?”
“ku dengar dia itu bukan laki-laki yang baik. Kau harus hati-hati.”
Benarkah? Selama ini Mannaka tak pernah salah menilai orang. Mungkin aku memang harus mewaspadainya. Hirai, apa yang kau inginkan? Aish, kau membuatku pusing.


Do it right. You’re really a bad boy, only having curiosity rather than love.
Because of you, I’ve been fooled the entire time.

You’re no fun, you have no manners. You’re a devil, devil you are.

You better run run run run run
I can’t see this anymore, so I’m going to reject him . . .

Benarkah kau adalah bad boy, Hirai? Aku membereskan ruang tamu setelah Mannaka dan Chihiro pulang sambil mendengarkan lagu-lagu dari Sonyuh Shidae. Girlband asal korea yang juga terkenal sampai ke telingaku. Badanku masih lemas, tapi bebanku serasa hilang separuhnya setelah aku bercerita pada mereka.
“hey, Kozue. Kemana saja kau?”
“ ah. .! Hirai? Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?”
Hirai hanya menunjuk pintu toko yang terbuka . Dia lalu memelukku dari belakang, aku ingin menghindar tapi . . dia terlalu cepat menangkap tubuhku. Dagunya tepat berada di pundakku, disamping telingaku.
“Kozue, kemana saja kau? Aku kesepian di sekolah. Apa kau sakit?” dia berbisik, aku yang sedari tadi  hanya diam jadi salah tingkah. Aku yakin wajahku memerah sekarang.
“kenapa kau hanya diam?”
“Hirai,lepaskan aku.”
“tidak bisa. Aku menyukaimu, dan aku harus mencintaimu”
“a..apa maksudmu dengan . .”
“sst, . .pokoknya aku tak akan melepaskanmu.”
Apa ini? Harus mencintaiku? Kenapa harus begitu. Aku berusaha melepaskan diri. Hirai malah semakin erat memelukku. Ish, harus bagaimana ? Hirai membisikkan sesuatu di telingaku. Aku tak dapat mendengarnya dengan jelas, hanya terdengar seperti desahan. Dia lalu melepaskanku. Tepat saat itu, ibuku pulang. Ah, tepat waktu, bu. Hirai sepertinya tak ingin ada pertanyaan, dan langsung berpamitan pulang.


“Hey, kenapa kau?”
“tak apa. Hanya saja aku sedikit merasa bersalah padanya.”
“siapa, Kozue?”
“. . .”
“Aku sudah pernah mengatakannya kan, Hirai. Ini tak akan mudah. Ini bahkan lebih sulit dari membuatnya mencintaimu. Kau yang harus mencintainya. Sekarang, bagaimana prasaanmu?”
“aku. . argh sudahlah. Jangan lagi membicarakan hal ini. “
“hey, boy, sepertinya kita akan menang. ,”
“apa maksudmu?”
“kau pikirkan saja sendiri. Hahaa. . sudah ya.”
“hey tunggu. . . Hatake ! argh! Sial kau !”


Dua hari ini Hirai tak ada di kelas. Dan semua orang bertanya padaku. Kenapa bertanya padaku? Selain itu para gadis dari lain kelas juga menitipkan banyak surat padaku. Tentu saja untuk Hirai. Ish, artinya aku harus mampir kerumahnya saat pulang nanti. Rumahku dan rumahnya memang searah. Aku sering melihatnya saat pulang. Terlebih belakangan ini kami sering pulang bersama.
“Nakanishi-kun, apa kau tak tahu apa yang terjadi pada Hirai?” tanyaku saat bertemu Hatake Nakanishi kelas 3-3, yang setahuku adalah teman dekat Hirai.
“Tidak, kenapa kau tak menjenguknya?”
“menjenguknya? A. .apa dia sakit?”
“. . .”
“kau pasti tahu sesuatu, kan?”
“datanglah saja kerumahnya. Sudah ya, kelasku sudah mulai. Kau juga kan, Yamashita-san.”


“Permisi.”
“Ya? Oh, Yamashita-san. Mau menjenguk Hirai ya? Langsung saja ke kamarnya,”
Begitulah, ibu Hirai sepertinya hapal denganku. Hahaa.. tentu saja, sejak jadi pacarku, Hirai sering mengajakku ke rumahnya untuk sekedar bertemu dengan ibu Hirai. Aku heran, kenapa dia melakukannya?
Kamar Hirai ada di lantai dua, tepat di samping tangga. Aku mengetuk pintu kamarnya. Tak ada jawaban. Apa dia sedang tidur? Perlahan aku menggeser pintu agar tak membangunkan Hirai. Berantakan. Sama seperti terakhir kali aku datang, dua minggu lalu.
Melihatnya sedang tidur, aku jadi tak tega untuk marah karena ulah fansnya yang menitipkan surat mereka padaku. Hihihi. .wajahnya lucu saat tidur.
Drrrt, drrrt. . ah, hp Hirai bergetar, apa aku harus membangunkannya? Mungkin nanti saja.
“moshi moshi.”
“hey Maruyama-kun. Apa kau sudah berhasil? Apa kau sudah jatuh cinta pada yamashita-san? Ingatlah, waktumu akan segera habis untuk membuktikannya. Ah, sepertinya kau harus menepati janjimu untuk taruhan ini. . . hahahaa. .”
Klik.
Suara di seberang sana menghilang. A. .apa maksudnya semua ini? Hanya permainankah? Tapi kenapa Hirai mengorbankan perasaannya? Untuk apa? Aku menahan air mataku. Semoga saja Hirai tak melihatku begini. Dia pasti sangat sakit.
Hirai, hari ini cerah dan air mataku jatuh. Apa kau tahu?


Seminggu berlalu tanpa ada komunikasi antara aku dan Hirai. Menghindarinya, ya aku memang menghindarinya. Aku tak peduli dengan perasaanku padanya, juga perasaannya padaku. Toh aku dan dia tak kan bertemu saat kuliah. Aku akan melanjutkan sekolah ku di luar kota. Dengan begitu aku tak akan bertemu dengannya. Dan mungkin bisa melupakannya.
 “Kozue.” Hirai tiba-tiba muncul di hadapanku, aku harus bagaimana? Aku berbalik dan menjauh. Sekejap tanganku diraihnya. Aku ditarik masuk ke dalam pelukannya. Aku sesak. Air mataku mengalir tanpa bisa ku tahan.
“Hirai, aku . . lepaskan aku.”
“kenapa kau menghindariku? Kau lari dari ku, kenapa?” mata itu, mata yang menyeramkan itu datang lagi. Tubuhku lemas,Hirai memojokkanku di sudut ruang. Mengurungku dengan kedua tangannya yang kekar. Melihatku menangis, Hirai menurunkan nada bicaranya.
“Kozue, jawab aku. . tolong jawab aku.” Ada nada keputusasaan dalam kalimatnya, aku bisa merasakan itu.
“a. .aku tahu kau hanya menyiksa dirimu. Kau tak kan pernah bisa mencintaiku, Hirai. Kau hanya akan membuang waktumu sia-sia. Aku tahu ini hanya permainan. Aku tahu. . aku tahu semuanya.”
“Kozue, maaf . . maaf.” Baru kali ini aku melihat matanya sayu. Baru kali ini wajahnya tertunduk. Dia memelukku lagi. Aku merasakan pundakku mulai basah. Hirai menangis?
“Hirai, lepaskan aku. Biarkan aku pergi. Dengan begitu kau akan kembali seperti saat sebelum kau bersamaku. Maaf, aku membuatmu kalah dalam perjanjianmu, maaf.”
Aku mendorongnya perlahan. Sesaat kemudian aku berlari menjauh darinya. Sempat kudengar dia memanggilku. Tapi aku tak peduli. Aku terus berlari.


Sedikit waktu yang kuperlukan untuk jatuh cinta. Dan butuh begitu banyak air mata untuk melepaskannya. Dan aku sudah melepasnya.  Hmm, aku harus kembali seperti aku yang dulu. Hari ini aku ada janji dengan sahabat-sahabatku. Mannaka, Chihiro, bantu aku bersenang- senag hari ini ya !
“Mannaka, Chihiro..!” itu mereka.
“Ah, Kozue. Ayo berangkat. Mannaka, ayo !”
“Mannaka, kau terlihat murung. Apa tetap tak ada perkembangan?” kau terlihat lebih buruk dariku Mannaka, ada apa?
“Mannaka? Kau melamun?” Bahkan seorang Mannaka bisa jadi seperti ini.
“Ah, tidak, Chihiro.”
“Bagaimana perkembangannya.?”
 “e-em tak ada yang terjadi, Kozue” Mannaka hanya menjawab sekenanya? Aish tentu saja. Aku pun akan melakukannya saat ini bila ditanya mengenai Hirai, ah, Hirai.
“Aish, sudahlah Kozue, lebih baik kita bersenang-senang. Benar bukan, Mannaka?”
 “Ya. ah, ya, bagaimana dengan Daiki, Chihiro?”
“e-em, tak ada perkembangan juga. Bagaimana dengan Maruyama, Kozue?”
“Aish, sudah waktunya untukku berhenti berharap. Aku sedang tak ingin memikirkan masalah seperti itu. Ayo kita cari dvd drama korea.”
“Ayo.”
“Ya.”


“Kozue, di hari perpisahan seperti ini apa kau mau terlambat?” aish, tentu aku tak mau bu.
“eh, ia, bu. Ini aku sudah siap. Aku pergi dulu, bu. . daagh !”
Aku membuka pintu rumah dengan sepotong roti di tanganku. Ini adalah hari kelulusanku. Aku tak ingin -tentu saja- datang terlambat hari ini. Dan ketika pintu benar-benar telah kubuka lebar dan angin dingin menerpa wajahku, aku dapat melihat sosok yang ku kenali. Dia . . .
“Hi. .hirai !”
“hai.”
“kenapa kau disini?”
“kau lama sekali. Aku menunggumu dari tadi.”
“ me. .nunggu ku,”
“e-em, aku ingin berangkat ke sekolah denganmu untuk yang terakhir.”
Perasaan dingin yang mengalir menjadi hangat ini yang kurasakan saat pertama bertemu dengannya dulu. Dan ketika peristiwa surat itu. dan saat aku menemaninya membaca surat dan ia ternyata hanya ingin bersantai. Dan saat dia memergoki ku saat akan kabur. Dan saat dia memelukku. Dan saat. . saat. Akh, aku tak ingin mengingatnya lagi.
“Hirai.”
“Tentang perjanjian itu aku mohon maafkan aku.”
“Aku sudah melupakannya,”
“Kozue, terimakasih, dengan melepasmu aku memenangkan perjanjian itu.”
“Hah! Ba. .bagaimana bisa?”
“Ya, begitulah. Aku tahu, jatuh cinta adalah ketika kau tak memaksa dirimu untuk jatuh, tapi kau hanya jatuh. Kozue, aku hanya jatuh. Apa kau bisa menerima itu?”
“Maaf, Hirai. Ya, aku menyukaimu, aku jatuh cinta padamu. Tapi aku . .tak semudah itu aku menerimanya, aku terlanjur . .”
“Aku mengerti, Kozue. Sepertinya kita akan terlambat.”
“Kita memang sudah terlambat, tau!”
“Ayo berangkat.”
“E-em.”

Kami berlari. Berlari menuju sekolah kami. Melewati hari terakhir kami. Kami berlari membelakangi kenangan dan menatap masa depan. Ini bukan akhir, kan, Hirai? Ini hanya awal dan kita harus meninggalkan yang lalu untuk jadi kenangan.
Aku akan mengingatnya. Hirai Maruyama.
 It just has to be love.
And fall in love is when you don’t force yourself to fall, you just fall.


Mitos Cinta dan Faktanya




Mitos : Cinta saja sudah cukup sebagai dasar berhubungan
Fakta : Dalam memilih pasangan, banyak orang yang mengedepankan perasaan cinta yang menggebu-gebu. Hal itu tidak salah, namun saat ingin menjalin hubungan yang lebih serius misalnya pernikahan, sekadar perasaan cinta yang menggebu saja tidak cukup. Layaknya tanaman, cinta pun membutuhkan nutrisi untuk menjaganya tetap hidup. Kepercayaan, toleransi, intimasi serta komitmen adalah nutrisi utama bagi perasaan cinta. Jika Anda hanya merasakan cinta, tanpa diikuti oleh nutrisinya, maka dapat dipastikan, perasaan itu tak akan bertahan lama.

Mitos : Cinta tak perlu dipelajari

Fakta : Cinta juga perlu dipelajari. Jika Anda menganggap cinta saja sudah cukup, maka secara otomatis Anda dan pasangan tak akan pernah belajar untukberkomunikasi dan menyelesaikan masalah. padahal, sebesar apapun cinta Anda, kerikil dalam hubungan tak akan bisa dihindari. Namun ketika badai dahsyat yang menguji cinta Anda bisa dilewati, maka ikatan Anda dan pasangan makin kuat. Oleh karena itu, jangan jadikan perasaan cinta Anda alasan untuk berhenti belajar dan mengenal pasangan lebih dalam.


Mitos : Pasangan tak akan berubah sampai kapanpun
Fakta : Setiap orang akan mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Dulu si dia sering menulis puisi bagi Anda, namun kini, SMS romantis pun tak pernah ada. Anda tak bisa menahan perubahan tersebut. Yang bisa Anda lakukan adalah menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada maka Anda akan berbahagia. Lagipula, apakah cinta si dia hanya bisa dibuktikan lewat puisi-puisinya saja?


Mitos : Pasangan sempurna akan membuat Anda bahagia
Fakta : Tak ada seorangpun yang sempurna. Seperti kata pepatah, jangan menghabiskan waktu Anda untuk mencari orang yang sempurna. Tapi carilah seseorang yang bisa menyempurnakan kehidupan Anda. Si dia mungkin tak seganteng Brad Pitt, tak sekaya Donald Trump dan rambutnya tak setebal Sharuk Khan. Tapi kesabarannya dapat membuat hati Anda tenang setiap saat. Itulah pasangan yang 'sempurna'.

Mitos : Pernikahan adalah prestasi
Fakta : Jangan pernah terganggu dengan status sahabat yang sudah menikah. Menikah bukan prestasi. Memiliki suami bukan berarti Anda memiliki kelebihan dari wanita lain. Ketimbang putus asa karena status single, lebih baik buka pikiran Anda menjadi lebih positif. Aura dan emosi positif justru akan membuat Anda semakin menarik. Dan jika saatnya tepat, seorang 'pangeran' akan datang dan meminang Anda.




diambil tanpa perubahan dari http://id.she.yahoo.com/mitos-tentang-cinta-dan-faktanya.html

Rabu, 07 Maret 2012

Teman

Teman
jangan pergi
jangan hilang
jangan tinggalkanku sendiri
jangan sepi
jangan tinggalkanku dalam sunyi
aku takut kalau-kalau aku tak mampu
aku tak bisa mencari cahaya
aku kan gelap
terdiam dan menghilang
cukup kau ada
temani aku dalam senyap
tak butuh lebih
tak perlu jadi separuh bagiku
cukup jadi temanku
hanya temanku.

Selasa, 06 Maret 2012

Keputusan

Aku hanya mampu berkata
Maaf
Sebab apa yang hendak ku kata telah habis
Terhisap gelisah yang mendera jiwaku
Maaf
Untuk luka yang merekah dalam kenangan
Sebab luka ku telah perih
Sebab percaya ku tak mampu
Maaf
Aku tak lagi menahan gelisah

Ada seribu sembilu datang padaku
Mengacungkan tajamnya dalam dadaku
Mengancamku
Aku tak ingin membuatmu terluka lebih dalam
Cukup.
Ku cukupkan saja perihmu

Jangan marah,
Jangan kau tambah lagi resahku
Jangan kau datang bawa dukamu
Mungkin suatu saat nanti kan kau temukan arti keputusanku.

Sabtu, 18 Februari 2012

Cantik a la Cleopatra

Berita Aneh - Kadang kita sering mendengar kecantikan wanita sering dihubungkan dengan Ratu Penguasa Mesir kuno Cleopatra. Banyak rahasia dari Cleopatra yang dipakai sampai saat ini dalam melakukan perawatan tubuh.

Kulit Cleopatra yang indah menjadi daya tarik tersendiri. Bagi wanita resep kecantikan ala Cleopatra sampai saat ini masih dipercaya untuk membuat kulit cantik sempurna. Apa saja perawatan Cleopatra yang dilakukan dahulu kala? Ini dia!

1. Lidah buaya
Konon katanya, Cleopatra sering memijat lembut kulitnya dengan lidah buaya. Gel yang terkandung dalam lidah buaya memiliki kandungan emolien, yang bermanfaat untuk mengencangkan kulit.

2. Kelapa
Pijatan lembut dengan minyak kelapa akan memberikan kulit yang berkilau. Minyak kelapa menyerap ke dalam kulit dengan cepat dan sangat pas untuk menghindari dari keriput.

3. Timun
Irisan mentimun sejak lama dipercaya untuk perawatan wajah. Makanan yang memiliki kandungan air tinggi ini baik untuk memelihara kulit dan membantu menghindari keriput. Dengan menaruh irisan mentimun di atas wajah akan berkontribusi besar untuk kulit.

4. Menggosok kulit
Menggosok kulit dengan gerakan memutar pada saat Anda mandi akan menghilangkan sel-sel kulit mati di kulit. Selain itu cara ini berfungsi untuk melancarkan peredaran darah, sehingga baik untuk kesehatan dan kecantikan kulit.



diambil tanpa perubahan dari berita-aneh.blogspot.com

Selasa, 14 Februari 2012

Rahasia kecerdasan Yahudi

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, "Mengapa Yahudi Pintar?"


Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri? Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.

Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika. Stephen bertanya, "Apakah ini untuk anak kamu?" Dia menjawab, "Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius."

Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya. Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan. Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.


Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.

Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, "Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet)," ungkapnya.

Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.

Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.

Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak (bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel. Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).

Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban. Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.

Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi. Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, "Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!!!" katanya.

Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari. Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius. Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.

Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya. Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!

Anda terperanjat? Itulah kenyataannya.

Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin? Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza. Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak.

Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran. Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. "Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?" demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.

Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur'an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka. Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.

Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya. Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal.

Benarkah merokok dapat melahirkan generasi Goblok! kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. Lihat saja Indonesia, katanya seperti dalam tulisan itu. Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cts !!!

Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Ditangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia?

Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?

dikutip tanpa adanya perubahan dari forum.vivanews.com