Selasa, 01 Mei 2012

What a Dream I Wanna Make it True (part 3)

"Minni cantik... abis kuliah kamu ikut aku bentar ya... kita ke cafe aku. yah itung-itung rasa terimakasih aku. Kan kamu udah ngajarin aku tadi sebelum quiz." ini yang aku suka dari Zea, selalu aj nraktir tanpa diminta. hahaa
"ok. emank kamu punya cafe? kok aku gag tau?"
"ada deh, nanti ikut aja ya..."

____________

Kuliah berakhir. Kini aku bersama Zea di dalam Jazznya meluncur ke suatu tempat yang aku ketahui sebagai cafe milik Zea. Sepanjang jalan Zea tak henti-hentinya bercerita tentang quiz tadi pagi dan cafe yang ia dan almarhumah ibunya bangun dua tahun lalu. Aku yang sedari tadi diam hanya sesekali merespon ceritanya dengan 'oia?' atau 'trus gimana?'  dan 'waw'.. Itu bukan masalah untuk Zea asal aku merespon ceritanya. Selang 15 menit semenjak aku masuk ke mobil, kami sampai di sebuah cafe yang sangat aku kenali. Sedikit terkejut saat pertama membaca papan namanya . Tapi sesaat kemudian aku langsung berusaha menguasai diri. Aku membaca sekali lagi papan nama itu dan berharap aku salah baca. "Chocola Cafe". Tepat. Tak ada yang berubah. Aku rasakan ada aliran darah yang lebih cepat dalam nadiku.

"yu' masuk Min." Zea mengajakku tanpa memperdulikan air mukaku yang mungkin kini telah berubah. aku mengangguk dan mngikutinya masuk.
"Oh, kamu tumben kesini Ze?" seseorang dari dalam menyapa Zea sesaat sebelum aku melewati pintu. Dengan segera aku mengetahui siapa itu. Mas Dimas. Aku tetap diam, hanya sebuah senyum yang ku kulum untuknya. 'Hari ini aku beruntung', batinku.
"iia, bawa temen nih. kenalin, namanya..."

"Hai, Minni." Mas Dimas langsung menyapaku tanpa menunggu Zea menyelesaikan ucapannya. Aku kini melebarkan senyumku. selebar dan semanis yang aku bisa.

"Lho? kalian udah saling kenal?" Zea memandang curiga. "Mas Deni kenal sama Minni?" Zea mengulang pertanyaannya. Aku bingung, Mas Deni?

"kamu sii jarang ke cafe, gag tau deh ama pelanggan setia kita." ucap lelaki yang Zea panggil Mas Deni itu, atau yang aku tahu Mas Dimas.

"hahaa Min, kamu gag bilang kalo sering ke sini..?"
"ye, kamunya juga gg nanya.." selorohku, masih dalam keadaan bingung.

Kami akhirnya duduk di kursi favoritku, di samping jendela besar yang menampilkan panorama kota yang sibuk. Aku memesan secangkir Chocolate Coffe. Segera setelah itu, pesananku datang.
"Ze, yang tadi itu....yang kamu panggil mas Deni.." aku memulai dengan ragu-ragu.
"kamu naksir?" tembak Zea
"ye.. bukan.....!!" sebenarnya iia, sedikit.." aku taunya dia itu mas Dimas" akhirnya bisa kuutarakan juga.
"ha? hahahaa kok bisa?" Zea menertawaiku.
"yaah, seminggu lalu aku kesini trus dilayani sama mas Dimas.........." kuceritakan semua yang aku tahu, termasuk salam yang dititipkan mas Dimas padaku.

"mungkin, yang kemarin kamu temui itu bener mas Dimas, mas Deni's twins.. kembarannya mas Deni. Denger-denger dia lagi koas di rumah sakit sini. Mungkin kemaren itu dia tumben mampir trus ketemu kamu deh. kalo mas Deni itu, dia general manager disini.. secara aku belom bisa manage nih cafe jadi deh mas Deni di sini.. "Zea membeberkan apa yang ia ketahui padaku.

"oh, pantes waitress kemaren bilang dia bukan waitress disini." tandasku. Padahal otakku masii belum mampu mencerna dengan baik. Kalo mas Dimas itu kembaran mas Deni dan dia jarang mampir kesini, darimana dia tau aku? aku bergumam sendiri saat Zea masuk ke dalam ruang karyawan.

Sesaat kemudian, Zea keluar bersama mas Dimas (atau mas Deni?). Entahlah. Aku menenggak habis minumanku, sembari menyembunyikan wajah.

"Min, ini dia mas Dimas. kalo yang disana mas Deni." Zea menunjuk ke satu pojok tempat kasir seharusnya berada. Aku melihat kearah yang ia tunjukkan. lalu menatap mas Dimas. Hemm mirip. sangat mirip.
"hhhmmmpppff" mas Dimas terkekeh. ia lalu duduk di kursi tepat di hadapanku. "bingung ya'?" ucapnya kemudian. Aku mengangguk. Kurasakan majahku memanas. Apalagi Zea meninggalkan kami berdua saja.

"ko' mas Dimas tau aku? padahal baru minggu kemaren ketemu kan?" ucapku tanpa basa basi. mas Dimas kembali terkekeh.
"siapa bilang, aku udah ketemu kamu beberapa kali kok. kamunya mungkin yang gag sadar. haha"
"dimana?"
"disini." ucapnya sambil tersenyum. aiiih manisnyaa.... batinku.

"kemaren-kemaren kebetulan Dimas sering main kesini, pas banget waktu kamu ada disini juga. Yah akhirnya Dimas tau deh siapa kamu." Mas Deni menghampiri kami, lalu duduk di sebelah mas Dimas. kami lalu ngobrol panjang dikali lebar sama dengan luas, dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai Talaut. Dari pembicaraan kami, aku semakin tertarik pada mas Dimas, dan.. pada mas Deni juga. Hahahaa



to be continued.............