Jendela kamarku berembun ketika aku menghela nafas. Tugas kuliah menuntut untuk ku kerjakan. Tapi rasa-rasanya aku tak ingin megerjakannya, setidaknya untuk saat ini. Kulirik jam weker di meja belajar yang asyik berdetak. Pukul 17.45. Sayup-sayup terdengar adzan maghrib dari kejauhan. Segera saja kuambil air wudhu dan melaksakan hakku.
Masih kuingat kejadian semiggu lalu di Chocola Cafe. Dan masih tak habis pikir dengan kebetulan yang terjadi. Oh! tidak. Tidak ada kebetulan. Ini semua pasti telah direncanakan. Awalnya aku adalah pelanggan cafe itu. Lalu dia sering melihatku dan akhirnya mencari tau siapa aku. Yap. seperti itu. Tapi, tunggu. Bukankah dia bukan waitress di sana? Artinya, dia bukan sudah lama mengenalku. Lalu?
"riiing...riing..." ponsel monoponik usangku memanggil. Siapa sih? Maghrib maghrib gini telfon. Aku bergumam sendiri.
"assalamu'alaikum.." suara dari sebrang membuka percakapan. Zea..
"wa'alaikum salam. Zea mays..." jawabku malas-malasan.
"idiih.. zea mays lagi? jahat yaah Minni.."
"iia iia, ada apa? tumben jam segini telfon."
"emm. gimana yah.. besok berangkat duluan yu'? jam tujuh kurang gitu? aku mo nanya-nanya niih...?"
"oke," sambungan terputus dari seberang. Aku berceloteh sendiri karena kesal.
Semakin kesal saat melihat tumpukkan tugas di meja. Aku mnggigit-gigit kuku jari telunjukku. Berusaha mengembalikan mood yang telah rusak sejak tadi siang. Wajahku tampak berantakkan di cermin. Ada sesimpul senyum yang terkulum disana, memperlihatkan kegetiran. Inside me is just a mess. Tak tahan, aku menghambur ke peraduan. Tugas? Mungkin nanti.
__________
Damai menghilang. Hiruk pikuk orang berlari mngejar sesuatu yang rancu. Sebuah mobil combi dengan warna yang norak beserta isinya. Sofa butut berwarna krem pasta terdiam manis disamping combi itu. Diatasnya ada seorang pria terduduk sembari meminum sesuatu dari cangkir. Dari aromanya... coklat hangat. Orang-orang masih saja berlari mendekatinya dan berkumpul memperebutkan mobil combi itu. Aku tertarik, ku dekati mobil itu dan kulihat sekelilingnya. "di jual". Segaris tulisan menyapa mataku. Oh, jadi karena ini mereka berkumpul.
Acuh, aku melangkah menjauhi kerumunan. Lalu duduk dengan santainya pada sofa krem butut disebelahnya. Pria itu tersenyum, menawariku secangkir coklat hangat yang diminumnya. Tanpa pikir panjang, aku meraih cangkir itu, meminum isinya dan merasakan hangatnya di tenggorokanku. Aku lalu menatap pada pria itu. Mata sipit belo, bibir tipis, rambut lurus pendek, kulit putih. Aku mngenalnya. Segurat senyum lalu merekah di bibirku. Hanya sekilas aku melihatnya dengan sangat jelas, lalu kabur. Lalu berubah jelas dan aku mulai mengenalinya kembali. Wajah khas Jogja, kulit sawo matang, teman kuliahku. Raka?!
Aku berdiri terlonjak, berlari menjauh. Mencari sisi sepi dari semua kesibukan. Tubuhku terguncang pelan. Lalau sedikit demi sedikit aku kembali melihat cahaya lampu kamarku.
"mba Min.. bangun.. belom sholat kan?" suara nyaring adik perempuanku, Nara membuatku tergagap. Aku mengusap mataku kasar. Belum sadar antara nyata dan khayal. Mataku menatap sekeliling dan akhirnya terpaku pada secangkir minuman di meja. Coklat hangat. Pasti bunda yang membuatnya untukku.
Tak sabar menikmati coklat hangat, ku hampiri meja yang penuh dengan kertas dan buku, dan secangkir coklat hangat tentunya. Sembari menikmati coklatku, ponsel butut kuraih. Ada 4 sms. Raka, Dara, Dara, Dara.
Raka?
"Min, lo gue ksi bagian nyelsein bgian pnutup ya'." arggh, sial. Tugas lagi. Dasar Raka pembawa neraka!! umpatku. Raka adalah teman kuliahku. Dia selalu saja membuatku kesal dengan tingkah-tingkahnya yang sok jadi pemimpin. Bossy? bukan juga. Hobinya adalah mengerjai, mengejek dan membuatku salah tingkah. Bukan karena aku menyukainya. Tapi karena risih setiap dia ada di dekatku. Ah, gag penting banget mikir dia, umpatku lagi dalam hati.
Kubuka sms selanjutnya, dari Dara.
"Eh, say. Udah ktemu lgy gg ama waitressnya?" Dua sms yang lain berisi sama. Aku lalu mengetik beberapa kalimat di poselku.
"belom, aku blom k.cafe lgy." Sebelum menekan tobol send, aksiku terhenti. Bukan apa-apa, hanya saja pulsaku limited edition. Aku putuskan kembali pada tugasku setelah shalat Isya tanpa membalas satupun sms mereka.
Jam weker di kamar telah menunjukkan angka-angka muda. 02.13. Lelah menyergapku setelah 6 jam berkutat di atas meja. Sedikit lagi, pikirku. Kulanjutkan apa yang kulakukan. Semenit, dua menit aku mampu bertahan. Tapi sedetik kemudian mataku kembali menutup. Dalam diam aku berharap, bertemu kembali dengan mata sipit belo dan bibir tipis milik waitress 85.
to be continued...
Masih kuingat kejadian semiggu lalu di Chocola Cafe. Dan masih tak habis pikir dengan kebetulan yang terjadi. Oh! tidak. Tidak ada kebetulan. Ini semua pasti telah direncanakan. Awalnya aku adalah pelanggan cafe itu. Lalu dia sering melihatku dan akhirnya mencari tau siapa aku. Yap. seperti itu. Tapi, tunggu. Bukankah dia bukan waitress di sana? Artinya, dia bukan sudah lama mengenalku. Lalu?
"riiing...riing..." ponsel monoponik usangku memanggil. Siapa sih? Maghrib maghrib gini telfon. Aku bergumam sendiri.
"assalamu'alaikum.." suara dari sebrang membuka percakapan. Zea..
"wa'alaikum salam. Zea mays..." jawabku malas-malasan.
"idiih.. zea mays lagi? jahat yaah Minni.."
"iia iia, ada apa? tumben jam segini telfon."
"emm. gimana yah.. besok berangkat duluan yu'? jam tujuh kurang gitu? aku mo nanya-nanya niih...?"
"oke," sambungan terputus dari seberang. Aku berceloteh sendiri karena kesal.
Semakin kesal saat melihat tumpukkan tugas di meja. Aku mnggigit-gigit kuku jari telunjukku. Berusaha mengembalikan mood yang telah rusak sejak tadi siang. Wajahku tampak berantakkan di cermin. Ada sesimpul senyum yang terkulum disana, memperlihatkan kegetiran. Inside me is just a mess. Tak tahan, aku menghambur ke peraduan. Tugas? Mungkin nanti.
__________
Damai menghilang. Hiruk pikuk orang berlari mngejar sesuatu yang rancu. Sebuah mobil combi dengan warna yang norak beserta isinya. Sofa butut berwarna krem pasta terdiam manis disamping combi itu. Diatasnya ada seorang pria terduduk sembari meminum sesuatu dari cangkir. Dari aromanya... coklat hangat. Orang-orang masih saja berlari mendekatinya dan berkumpul memperebutkan mobil combi itu. Aku tertarik, ku dekati mobil itu dan kulihat sekelilingnya. "di jual". Segaris tulisan menyapa mataku. Oh, jadi karena ini mereka berkumpul.
Acuh, aku melangkah menjauhi kerumunan. Lalu duduk dengan santainya pada sofa krem butut disebelahnya. Pria itu tersenyum, menawariku secangkir coklat hangat yang diminumnya. Tanpa pikir panjang, aku meraih cangkir itu, meminum isinya dan merasakan hangatnya di tenggorokanku. Aku lalu menatap pada pria itu. Mata sipit belo, bibir tipis, rambut lurus pendek, kulit putih. Aku mngenalnya. Segurat senyum lalu merekah di bibirku. Hanya sekilas aku melihatnya dengan sangat jelas, lalu kabur. Lalu berubah jelas dan aku mulai mengenalinya kembali. Wajah khas Jogja, kulit sawo matang, teman kuliahku. Raka?!
Aku berdiri terlonjak, berlari menjauh. Mencari sisi sepi dari semua kesibukan. Tubuhku terguncang pelan. Lalau sedikit demi sedikit aku kembali melihat cahaya lampu kamarku.
"mba Min.. bangun.. belom sholat kan?" suara nyaring adik perempuanku, Nara membuatku tergagap. Aku mengusap mataku kasar. Belum sadar antara nyata dan khayal. Mataku menatap sekeliling dan akhirnya terpaku pada secangkir minuman di meja. Coklat hangat. Pasti bunda yang membuatnya untukku.
Tak sabar menikmati coklat hangat, ku hampiri meja yang penuh dengan kertas dan buku, dan secangkir coklat hangat tentunya. Sembari menikmati coklatku, ponsel butut kuraih. Ada 4 sms. Raka, Dara, Dara, Dara.
Raka?
"Min, lo gue ksi bagian nyelsein bgian pnutup ya'." arggh, sial. Tugas lagi. Dasar Raka pembawa neraka!! umpatku. Raka adalah teman kuliahku. Dia selalu saja membuatku kesal dengan tingkah-tingkahnya yang sok jadi pemimpin. Bossy? bukan juga. Hobinya adalah mengerjai, mengejek dan membuatku salah tingkah. Bukan karena aku menyukainya. Tapi karena risih setiap dia ada di dekatku. Ah, gag penting banget mikir dia, umpatku lagi dalam hati.
Kubuka sms selanjutnya, dari Dara.
"Eh, say. Udah ktemu lgy gg ama waitressnya?" Dua sms yang lain berisi sama. Aku lalu mengetik beberapa kalimat di poselku.
"belom, aku blom k.cafe lgy." Sebelum menekan tobol send, aksiku terhenti. Bukan apa-apa, hanya saja pulsaku limited edition. Aku putuskan kembali pada tugasku setelah shalat Isya tanpa membalas satupun sms mereka.
Jam weker di kamar telah menunjukkan angka-angka muda. 02.13. Lelah menyergapku setelah 6 jam berkutat di atas meja. Sedikit lagi, pikirku. Kulanjutkan apa yang kulakukan. Semenit, dua menit aku mampu bertahan. Tapi sedetik kemudian mataku kembali menutup. Dalam diam aku berharap, bertemu kembali dengan mata sipit belo dan bibir tipis milik waitress 85.
to be continued...


.png)


