Rabu, 25 April 2012

What a Dream I Wanna Make it True (part 2)

Jendela kamarku berembun ketika aku menghela nafas. Tugas kuliah menuntut untuk ku kerjakan. Tapi rasa-rasanya aku tak ingin megerjakannya, setidaknya untuk saat ini. Kulirik jam weker di meja belajar yang asyik berdetak. Pukul 17.45. Sayup-sayup terdengar adzan maghrib dari kejauhan. Segera saja kuambil air wudhu dan melaksakan hakku.

Masih kuingat kejadian semiggu lalu di Chocola Cafe. Dan masih tak habis pikir dengan kebetulan yang terjadi. Oh! tidak. Tidak ada kebetulan. Ini semua pasti telah direncanakan. Awalnya aku adalah pelanggan cafe itu. Lalu dia sering melihatku dan akhirnya mencari tau siapa aku. Yap. seperti itu. Tapi, tunggu. Bukankah dia bukan waitress di sana? Artinya, dia bukan sudah lama mengenalku. Lalu?

"riiing...riing..." ponsel monoponik usangku memanggil. Siapa sih? Maghrib maghrib gini telfon. Aku bergumam sendiri.
"assalamu'alaikum.." suara dari sebrang membuka percakapan. Zea..
"wa'alaikum salam. Zea mays..." jawabku malas-malasan.
"idiih.. zea mays lagi? jahat yaah Minni.."
"iia iia, ada apa? tumben jam segini telfon."
"emm. gimana yah.. besok berangkat duluan yu'? jam tujuh kurang gitu? aku mo nanya-nanya niih...?"
"oke," sambungan terputus dari seberang. Aku berceloteh sendiri karena kesal.

Semakin kesal saat melihat tumpukkan tugas di meja. Aku mnggigit-gigit kuku jari telunjukku. Berusaha mengembalikan mood yang telah rusak sejak tadi siang. Wajahku tampak berantakkan di cermin. Ada sesimpul senyum yang terkulum disana, memperlihatkan kegetiran. Inside me is just a mess. Tak tahan, aku menghambur ke peraduan. Tugas? Mungkin nanti.

__________

Damai menghilang. Hiruk pikuk orang berlari mngejar sesuatu yang rancu. Sebuah mobil combi dengan warna yang norak beserta isinya. Sofa butut berwarna krem pasta terdiam manis disamping combi itu. Diatasnya ada seorang pria terduduk sembari meminum sesuatu dari cangkir. Dari aromanya... coklat hangat. Orang-orang masih saja berlari mendekatinya dan berkumpul memperebutkan mobil combi itu. Aku tertarik, ku dekati mobil itu dan kulihat sekelilingnya. "di jual". Segaris tulisan menyapa mataku. Oh, jadi karena ini mereka berkumpul.

Acuh, aku melangkah menjauhi kerumunan. Lalu duduk dengan santainya pada sofa krem butut disebelahnya. Pria itu tersenyum, menawariku secangkir coklat hangat yang diminumnya. Tanpa pikir panjang, aku meraih cangkir itu, meminum isinya dan merasakan hangatnya di tenggorokanku. Aku lalu menatap pada pria itu. Mata sipit belo, bibir tipis, rambut lurus pendek, kulit putih. Aku mngenalnya. Segurat senyum lalu merekah di bibirku. Hanya sekilas aku melihatnya dengan sangat jelas, lalu kabur. Lalu berubah jelas dan aku mulai mengenalinya kembali. Wajah khas Jogja, kulit sawo matang, teman kuliahku. Raka?!

Aku berdiri terlonjak, berlari menjauh. Mencari sisi sepi dari semua kesibukan. Tubuhku terguncang pelan. Lalau sedikit demi sedikit aku kembali melihat cahaya lampu kamarku.

"mba Min.. bangun.. belom sholat kan?" suara nyaring adik perempuanku, Nara membuatku tergagap. Aku mengusap mataku kasar. Belum sadar antara nyata dan khayal. Mataku menatap sekeliling dan akhirnya terpaku pada secangkir minuman di meja. Coklat hangat. Pasti bunda yang membuatnya untukku.

Tak sabar menikmati coklat hangat, ku hampiri meja yang penuh dengan kertas dan buku, dan secangkir coklat hangat tentunya. Sembari menikmati coklatku, ponsel butut kuraih. Ada 4 sms. Raka, Dara, Dara, Dara.
Raka?

"Min, lo gue ksi bagian nyelsein bgian pnutup ya'." arggh, sial. Tugas lagi. Dasar Raka pembawa neraka!! umpatku. Raka adalah teman kuliahku. Dia selalu saja membuatku kesal dengan tingkah-tingkahnya yang sok jadi pemimpin. Bossy? bukan juga. Hobinya adalah mengerjai, mengejek dan membuatku salah tingkah. Bukan karena aku menyukainya. Tapi karena risih setiap dia ada di dekatku. Ah, gag penting banget mikir dia, umpatku lagi dalam hati.

Kubuka sms selanjutnya, dari Dara.
"Eh, say. Udah ktemu lgy gg ama waitressnya?" Dua sms yang lain berisi sama. Aku lalu mengetik beberapa kalimat di poselku.
"belom, aku blom k.cafe lgy." Sebelum menekan tobol send, aksiku terhenti. Bukan apa-apa, hanya saja pulsaku limited edition. Aku putuskan kembali pada tugasku setelah shalat Isya tanpa membalas satupun sms mereka.

Jam weker di kamar telah menunjukkan angka-angka muda. 02.13. Lelah menyergapku setelah 6 jam berkutat di atas meja. Sedikit lagi, pikirku. Kulanjutkan apa yang kulakukan. Semenit, dua menit aku mampu bertahan. Tapi sedetik kemudian mataku kembali menutup. Dalam diam aku berharap, bertemu kembali dengan mata sipit belo dan bibir tipis milik waitress 85.


to be continued...

Selasa, 24 April 2012

What a Dream I Wanna Make it True (part 1)

Siang begitu terik ikut meramaikan suasana hatiku yang tak menentu. Bad mood menyergapku dengan sengaja. Merusak hariku yang gersang. Kuputuskan untuk sejenak menenangkan diri, menyepi di tempat favoritku .. "chocola cafe" sepulang kuliah.

"Min.. Minni..!!" aish, siapa lagi itu? aku mencari sosok yang memanggilku barusan. "Min, mo kemana sih? buru-buru amat?"
"biasa, lagi pengen minum coklat.."
"iiihhh gag ngajak-ngajak. ikutan donk!" sial. Dara gag tau aj aku lagi pengen sendiri.
"ok, tapi traktir aku ya."
"siap."

Akhirnya, disinilah kami. Chocola Cafe. BERDUA. Seorang waitress datang ke meja kami. Dengan pakaian seragam yang sengaja ia rapikan terlebih dahulu. 
"pesen apa nih, mba-mba?"
" hot chocolate satu." aku menjawab acuh. sama sekali tak memperhatikan ataupun melihat wajahnya.
"chocolate coffe latte sama chocolate pudding with srowberry sauce satu. makasi ya mas.." kulirik Dara yang memesan dengan centilnya. Pasti ada sesuatu dengan pelayan muda itu. Kualihkan pandangan mataku kearah waitress yang masih sibuk mencatat pesanan kami. Lumayan, skor 85. Merasa diperhatikan, waitress itu balik memandangku lantas tersenyum. Sedetik kemudian dia berlalu. 

"Tadi.. liat gg Min, dia cakep ya?" Dara memulai pembicaraan. seperti biasa, matanya dengan lincah berputar saat membicarakan sesuatu yang membuatnya tertarik.
"hemm"
"berapa skornya?"
"85"
"yaah masa cuma 85? harusnya 95 kalii.."
"hemm"

Tak lama berselang, pesanan kami datang. Tapi bukan waitress tadi yang mengantarkannya. hemm mungkin dia sibuk? pikirku.
"ini pesanannya mba. Hot chocolate satu, chocolate coffe latte sama chocolate pudding with srowberry sauce satu. " 
"iia, makasih, mba.. oia, yang nganter kok bukan waitress yang tadi?" ini apa lagi sih Dara? doyan banget sama urusan orang...
"yang mana mba?"
"itu loh yang rambutnya pendek lurus-lurus, matanya sipit-sipit belo, bibirnya tipis, manis, tinggi putih."
"ooh yang laki-laki ya mba?" dara mngangguk kencang, waitress heran sambil melirik kearahku. Apa? kataku dalam hati.
"ooh sedang keluar mba." ia berkata sambil lalu menaruh pesanan kami di meja.
"mba, bukannya disini pelayannya cuma cewe' ya?" kali ini aku yang bertanya. Bukannya menjawab, waitress itu hanya mengendikkan bahu dan berlalu.

"kok kamu tau sih Min?" dara memulai sambil menikmati puddingnya.
"apa?"
"kalo' disini cuma ada waitress cewe' aja.."
"yaah, cafe langganan..."
"oia ya..? hahaa maap deh,"
"napa juga minta maap.."
"gag pa pa, hehehee."

Dara pulang lebih dulu dari aku. Lebih tepat aku mengusirnya pergi dengan alasan aku mau ketemu sama guru les kimiaku dulu. Dara yang anti kimia langsung kabur karenanya. Sejenak aku merasa nyaman duduk sendiri di tengah ruangan cafe yang tak begitu luas. Suasana tak begitu ramai, hanya beberapa pasangan yang duduk tak jauh dari tempatku. Aku mulai melamun lagi. memikirkan mimpi semalam. mengingat-ingat wajah mas Dimas agar aku dapat menemukannya. Kemudian lamunanku beralih ke waitress 85 tadi.


Sejurus aku tertegun dan segera beranjak dari kursi, mengambil tas dan menuju kasir. Dara pasti lupa membayar bagianku.

"mba', saya tadi pesan hot chocolate satu." ucapku sembari mengulurkan selembar uang bernilai Rp. 50.000
"oia, tunggu sebentar ya mba. ini kembalinya" ucap waitress yang sama dengan yang mengantarkan pesanan kami. kali ini dia bertugas di kasir.
" mba' tadi saya tanya sama mba dan belum dijawab. bukannya disini gag nerima waitress cowo'?"
"maaf mba, yang tadi itu bukan waitress.. dia..."
"ooh, ya udah mba' saya kira waitress disini."
" eh, mba, mas Dimas nitip salam buat mba." Di..Dimas?
"siapa?"
"itu tadi mas-mas yang nyatet pesenan mba, namanya mas Dimas." ....

to be continued...

What a Dream I Wanna Make it True (prolog)

"mba, bangun... adzan subuh tuh" suara ayah membangunkanku dari lelap. Sejenak aku terjaga, namun detik berikutnya aku kembali lelap. Aku tak ingin mimpi itu berakhir.
_____

Aku berjalan sendiri menikmati suasana senja. Rasa hatiku begitu rindu. Entah pada apa atau siapa. Hanya rindu. Jalan setapak di pinggir lapangan ku lalui tanpa berpikir hendak kemana aku pergi. Hingga akhirnya aku sampai pada jalan buntu.

Entah apa yang kupikirkan, aku hanya merasa bahwa tempat ini adalah tujuanku. aku melihat sebuah rumah mewah bercat dinding ungu. Aku membunyikan bel. tak ada jawaban. sekali lagi, dan hanya hening yang membalas.

"Mas Dimas, Mas Dimas.." aku membatin, dilanjutkan bergumam lirih. Dimas? Siapa? seperti mampu kembali berfikir, aku mengingat-ingat nama Dimas. Ada beberapa orang yang kukenal bernama Dimas. Kakak kelas saat SMA, kakak tingkat saat kuliah, tetangga, teman main saat SD, kakak dari temannya temanku yang juga jadi temanku. Siapa lagi? Ini Dimas yang mana?

Tiba-tiba pintu rumah tersebut dibuka oleh seseorang yang wajahnya sangat ku kenal. Mas Deni. Yaah, dia adalah salah satu top star di kampus. semua junior mungkin mengenalnya. Tidak, pasti mengenalnya.

"Dimas, ada yang nyari nihh." dia berteriak setelah melihatku di depan pintu.
"masuk aja dek, bentar lagi juga Dimas keluar." dia mempersilahkanku dengan sangat lembut. aku bingung, kenapa bukan dia yang ingin ku temui? kenapa seseorang bernama Dimas yang bahkan aku tak mengenalinya?

"gak ah mas, mkasih, aku nunggu diluar aja." aku menolak.

seseorang keluar menyusul mas Deni. Dia lah Mas Dimas. Wajahnya. Aku tak mampu mengingat wajah itu. kemudian aku tersadar dan teringat akan siapa mas Dimas. Ini sebuah mimpi. seperti mimpi-mimpi sebelumnya. aku tak pernah melihat dengan jelas wajah mas Dimas.

Mas Dimas menggandeng tanganku. mengajakku masuk ke rumahnya. Aku menolak. Aku lalu keluar dari halaman rumah bercat dinding ungu itu. Mas Dimas mengejarku. Kembali menggandeng tangan kiriku dengan tangan kirinya. Tangan kanannya mendekap bahu kananku. Seketika itu aku merasa nyaman. Seketika itu pula aku tak ingin waktu berlalu ataupun terbangun dari mimpi.

Kami berbicara satu sama lain. Entah apa yang kami bicarakan, aku sama sekali tak mengingatnya. Waktu beranjak malam dalam mimpiku. Seperti mengerti isi hatiku, Mas Dimas menawarkan agar ia mengantarku ke rumah, dan aku menolak.

Sedetik kemudian Mas Dimas meraih tanganku, dan menariknya hingga aku berada dalam pelukannya. Lama. Lama hingga aku terbangun.

to be continued...